Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Menunggu Kepulangan

Mendoakan siapa saja yang tengah menempuh perjalanan menuju rumah yang sangat dirindukan. Semoga selalu dalam keselamatan dan tertunaikan apa yang tengah membuncah di dalam hati.

Yang tadinya saling membaca jarak, semoga menjadi dekat tanpa jarak. Yang tadinya merasa tak terlalu peduli atas keberadaannya, semoga mengerti bahwa ketika jauh ada rindu yang diam-diam menggumpal semakin besar. Kemudian sadar, bahwa setiap kehadiran tidak tergantikan.

Dan untuk kau, yang tengah menanti detik-detik perjalanan itu, seribu doa bersamamu.

Jumat, 08 Juni 2012

Perjalanan

Dunia terlalu hiruk pikuk. Maka kita membutuhkan malam yang hibernal, menyemai rindu dalam ingatan yang susah payah kita pertiahankan; tentang Tuhan.

Seperti akan kekal dalam rahasia, saya mengadu tentang apa saja. Dari hal remeh temeh, tentang kasur angin saya yang tiba-tiba menjadi tidak berguna, sampai bertanya tentang sesuatu yang penting; Tuhan, dimanakah perjalanan ini akan bermuara, menggenapkan cinta yang Kau beri.

Dan seperti inilah kita akan melanjutkan perjalanan, dalam dunia yang hiruk pikuk namun di jalan yang sepi.

Selasa, 29 Mei 2012

Satu Garis

Dalam satu garis kita merenungi, tentang apa saja.

Inilah kita, yang masih saja berjejalan di dalam bus kota. Seribu wajah dalam kecemasan yang sama, ingin segera sampai di tempat singgah. Sebut saja rumah. Ada banyak pengharapan hadir di sana. Hati yang tak lagi lelah, percakapan ringan, suara anak-anak yang tertawa renyah dan suara adzan yang menggetarkan.

Inilah kita, yang bertahan dalam langkah. Seribu cita-cita yang dirangkum untuk sebuah senyum. Karena ada yang berbahagia, ada yang menemukan jalan keluar, ada yang menemui yang ingin dijumpai, hingga ada yang menangis karena tak ada lagi cara yang cukup untuk perasaan gembira.

Inilah kita, dalam satu garis yang sama.

Untuk Pengantin

- Kado pernikahan Fu dan Canun



Kata-kata menyempurnakan dirinya menjadi kalimat
: puisi cinta.

Pada kesederhanaan hati semua bermula. Sebuah ruang yang akhirnya memiliki penghuninya sendiri.

Selamat pagi, pengantin.
Ada embun dan ranting-ranting basah yg turut mendoakan, semoga keberkahan melimpah di setiap langkah. Dari hari ketika kalian memilih jalan sama yg searah, hingga kalian tak lagi mengenali apakah waktu masih menyertai dunia ataukah musnah.

Selamat siang, pengantin.
Semoga kalian tak lekas lelah ketika terik memenuhi hari. Kami berharap, kisah yg kalian tuliskan adalah tentang sepasang sayap yg tetap gagah mengepak.

Selamat malam, pengantin.
Datangnya gelap akan menutupi benda dari pandangan mata. Begitu pun dengan kalian, akan menjadi penjaga rahasia satu sama lain.

Selamat bagi kalian, pengantin.
Selamat menikmati cinta.
Semoga kelak lahir kebaikan-kebaikan dari keduanya dan bahagia selamanya.



Dari kami,
Henny Hasan
Hesty Wahyuningsih

Kembali Tentang Luka

Rasanya masih perih mengingat semuanya. Ingin menangis, tentunya. Tapi seperti tak perlu.

Maka saya membuka kembali ingatan lama yg sedikitnya menghibur. Bahwa menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi secara kebetulan. Kemudian mengais-ngais pelajaran dengan sisa tenaga.

Barangkali saya hanya lelah dan membutuhkan gemericik air di pegunungan. Duduk di sebuah batu besar di pinggir kali dan memandang kesibukan di dalam air; mereka yg sibuk berenang kesana-kemari.

Atau, mungkinkah seperti ini rasanya luka yg hendak sembuh? Kembali terasa nyeri.

Duhai hati, tolong bersabarlah. Untuk hidup yg telah membukakan matamu atas banyak hal.

Antara Kita

Tersadar dari sesuatu yang terlupakan, adalah menemukan kembali jalan yang semestinya ditempuh.

Berbagai isyarat yang berebut muncul, mungkin tidak akan segera dimengerti. Ini sejenis doa-doa yang kita panjatkan ketika mengantar jenazah pulang ke tempat sebenarnya. Kita sungguh belum mengerti, diakah yang kita antar? Atau dia yang mengantar kita, memberi pengertian tentang jalan pulang.

Di antara kita, siapa yang akan lebih dekat dengan hidup? Apakah yang lebih dekat dengan udara yang menggigil pada setiap puncak malam? Apakah pada semua yang bertumbuh dan semakin jauh meninggalkan keabadian? Apakah pada hati yang tak pernah terpejam?

Di antara kita, siapakah yang akan lebih mengerti?

Rabu, 28 Maret 2012

Kepada Tuhan

Beranjak malam, Tuhan. Maka aku menyalakan lampu ruang tengah, lampu ruang tamu, lampu jalan, juga lampu kamar. Sedang hatiku biar gelap dulu, untuk merasakan sepi yang buncah.

Bukan masalah sementara ada di kegelapan, Tuhan. Asal Kau rela. Aku masih ingin belajar. Setelah kehilangan matahari, apakah purnama yang sebenarnya?

Rabu, 29 Februari 2012

Tentang Luka

Mungkin saya serupa kanak-kanak yang dua puluh tahun lalu bermain kayu-kayu kecil yang patah  karena lapuk dimakan musim. Ada beberapa yang tajam, yang tidak sengaja menusuk jari-jari yang ketika itu kulitnya masih tipis dan rapuh. Yang saya ingat, tidak ada perih. Hanya tangan kecil berdarah-darah. Yang saya ingat, saya tidak takut. Hanya heran mengapa luka yang tidak seberapa menganga, tapi mengucurkan darah yang tidak juga berhenti.

Mungkin ini hanya tentang luka. Tidak berbahaya, sepertinya. Sampai beberapa jam kemudian baru terasa perih ketika ibu meneteskan cairan berwarna coklat. Agar lekas mengering, kata ibu. Dan kemudian tidak ada lagi yang tahu tentang luka itu selain ibu. Saya simpan rapat-rapat perih dan ngilunya hingga beberapa hari.

Ibu, sekarang ini saya kembali terluka. Bukan di tubuh, tapi di hati. Peristiwanya persis seperti dua puluh tahun lalu, ketika saya bermain kayu-kayu patah. Tidak mengerti bagaimana mulanya luka itu menganga, tiba-tiba terasa ngilu dan perih.

Tetapi, tidak mengapa, ibu.. Ini hanya luka.Akan saya simpan saja, sendiri.
Akan menyembuh, pasti.