Rasanya masih perih mengingat semuanya. Ingin menangis, tentunya. Tapi seperti tak perlu.
Maka saya membuka kembali ingatan lama yg sedikitnya menghibur. Bahwa menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi secara kebetulan. Kemudian mengais-ngais pelajaran dengan sisa tenaga.
Barangkali saya hanya lelah dan membutuhkan gemericik air di pegunungan. Duduk di sebuah batu besar di pinggir kali dan memandang kesibukan di dalam air; mereka yg sibuk berenang kesana-kemari.
Atau, mungkinkah seperti ini rasanya luka yg hendak sembuh? Kembali terasa nyeri.
Duhai hati, tolong bersabarlah. Untuk hidup yg telah membukakan matamu atas banyak hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar