Kita yang melepaskan sesuatu dalam genggaman, kemudian menyerahkannya kepada matahari, mungkin pada awalnya seperti berusaha hidup tanpa hati. Mematikan rasa mungkin akan ditempuh, jika memang semua jalan tertutup. Lampu-lampu dipadamkan, pintu-pintu dikunci rapat, bulan terbenam dan bintang-bintang diturunkan dari gantungan.
Inikah yang disebut kesedihan, Ibu? Ada yang siap jatuh, menetes dari sudut mata ketika kita di dalam ruang pengap, terkunci dan tanpa cahaya. Diam-diam, kegelapan kita telusuri. Mengalir dari hulu menuju muaranya yang entah. Hanyut tanpa arus, hilang tanpa sebab.
Padahal, yang terjadi bukan semata-mata membuat sengsara. Ini hanya akan membantu kita memahami, bahwa ada waktunya kebahagiaan dapat kita sambut dengan cara lain; memadamkan lampu, bulan dan bintang, kemudian menyalakan matahari. Seperti halnya Tuhan memberikan pelajaran, ketika Dia menggulirkan siang-malam.
Kita mencoba mengerti, memilih bahagia dengan senyum matahari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar