Jumat, 28 Juni 2013

Negeri Kupu-kupu

akan aku kabarkan di hari depan, bahwa aku tinggal di negeri kupu-kupu. di kebun, di dinding rumah, di pelataran, di jalan. semua ada kupu-kupu. bahkan mungkin, di udara yang kami hirup terbuat dari kupu-kupu.

itulah yang akan aku ceritakan. kalian pasti akan terheran-heran dan mengagumi, betapa negeriku indah luar biasa.

tapi, mengertikah kalian, bahwa negeri kupu-kupu itu mungkin butuh waktu untuk mewujudkannya. untuk sekarang, aku baru sampai pada ulat. dan selanjutnya kepompong.

jadi, saat ini beginilah negeriku mesti bertahan sebagai negeri ulat. di kebun, di dinding-dinding rumah, di pelataran. semuanya ulat.

bisakah kalian bersabar menunggu cerita negeri kupu-kupu ku?

Dalam Hari

Jika angin tengah kencang-kencangnya, berarti bukan waktu yang baik untuk melihat rawa-rawa yang kita kagumi sepanjang malam purnama. Air di sana tengah riuh bergerak, menuruti arah angin pergi. Bertabrakan satu sama lain, pecah, bergerak lagi, pecah, bergerak lagi.

Tapi bukan berarti kita harus bersedih. Ini hanyalah hari yang dipenuhi angin kencang  dari pagi sampai senjanya. Dan esok, mungkin akan berbeda. Kita akan bertemu dengan suasana lain. Entah hari yang hujan, hari yang terik, hari yang tenang, hari yang penuh kupu-kupu atau wujud hari yang lain.

Memang kita tidak harus bersedih. Karena ini hanyalah hari yang selayaknya kita jalani dengan baik. Yang sedih akan terlupa. Yang bahagia akan berlalu. Semuanya bergantian, menyambut kita. Mesra.

Kita hanya perlu terjaga. Untuk melupakan atau mengingat sekadarnya.

Kenangan Mengaji Seorang Santri

Semakin bertambah tahun, semakin banyak paksaan, ”Ayo datang khotaman!” Alasannya, 5 kali khotaman saya tidak kelihatan. Saya berkelit, ”Solo-Kendal cukup jauh, tidak mudah mengantongi ijin dari rumah”. Biarpun sudah hampir 6 tahun terlewatkan, rasanya baru kemarin, ketika hiruk pikuk persiapan khotaman di depan mata. Sebagian besar santri disibukkan dengan semaan. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an semarak sekali, baik di pondok putra ataupun pondok putri.

Saya terlibat dan menyaksikan ritual itu sejak usia 11 sampai 17 tahun. Ritual sebagai peringatan pungkasan dari sedemikian panjang proses mengaji. Kenangan saat saya mengaji banyak. Tidak cukup semalaman untuk menceritakan. Jadi, anggap saja ini sebagai ringkasan.

Kali pertama saya mengaji, mungkin prosesnya biasa saja. Dimana santri mulai dibenahi makhorijul huruf dan tajwidnya. Masalah klasik bagi para pemula berupa makhorijul huruf dan tajwid yang masih belepotan. Susah membedakan kedalaman ha, kha, kho. Terbalik membunyikan sho, sin, syin. Masih kebingungan kapan dibaca jelas, berdengung atau memanjangkan beberapa alif. Biasanya guru kami melakukannya dengan menahan kami di surat Al-Fatihah sampai sekian lama, sampai sekiranya makhorijul huruf dan tajwid kami tidak terlalu berantakan. Baru bacaan kami melanjut ke surat An-Naas. Untuk tingkat Juz ’Amma, kami diwajibkan menghafal. Sedangkan tingkat Bin-Nadhor, kami cukup membaca Al-Qur’an dengan tartil. Namanya juga Bin-Nadhor, yang punya arti dengan melihat. Khusus untuk Bil-Ghoib, bagi beliau-beliau yang siap menjadi penghafal Al-Qur’an.

Ternyata, proses yang saya anggap biasa terasa ada yang istimewa ketika diberi amanah beberapa adik untuk mengaji di tingkat Juz ’Amma. Mungkin ibarat seorang perempuan yang merasa ibunya teramat sangat istimewa ketika dia mempunyai anak. Istimewa karena kesabaran diuji. Kesabaran menghadapi adik-adik dengan bawaan masing-masing. Semuanya beragam. Dari yang cukup memoles sedikit, sampai yang benar-benar harus ngoyo membenahi bacaannya. Dari yang cepat bisa sampai yang luar biasa susah untuk bisa. Dari yang nurut sampai yang ngeyel. Dari urusan ngaji sampai urusan masalah pribadi.

Saya yang saat itu masih menempuh pendidikan di SMA, tentu berbeda dengan mbak-mbak pengurus yang sudah kuliah. Selain usia yang masih muda dengan kondisi psikologis yang belum matang, kendala yang terasa adalah jadwal ngaji ba’da shubuh. Banyak adik-adik yang bangun kesiangan, yang membuat saya menunggu lebih lama, sehingga terkadang waktu ngaji mepet dengan waktu berangkat sekolah. Belum lagi saat guru ngaji Juz ’Amma banyak yang berhalangan. Jika sudah demikian, akan berbuntut keterlambatan saya ke sekolah, yang akan berurusan panjang dengan polisi sekolah. Ditilang! Malasnya....
Kedua teman saya yang bernasib sama, masih cukup mujur. Mereka di Madrasah Aliyah, yang tidak ada polisinya.
(pak Umam, piz.. hehe. Bagaimanapun juga, polisi sekolah seperti Pak Umam sangatlah penting, mengingat ada murid-murid semacam saya ini. Terimakasih atas disiplinnya yang bukan sekedar kata, pak..).

Akhirnya saya harus membangunkan mereka tiap shubuh, mendatangi satu persatu ke kamar masing-masing. Dan tentu saja saya sendiri harus sudah mandi sebelum shubuh, karena setelah selesai mengaji tidak ada waktu untuk mandi. Dengan demikian, keadaan membaik.

Ada lagi ketika absen mengaji saya yang sangat minimal dipertanyakan oleh wali kelas. Kadang Cuma seminggu sekali, paling banyak seminggu 6 kali. Padahal, waktu ngaji dalam seminggu ada 11 kali. Yah, gimana lagi? Niat ngaji tetap ada, tapi setiap sepulang bersama adik-adik, para guru Bin-Nadhor sudah pulang karena murid-muridnya selesai mengaji dan bubar. Alasan yang cukup bisa diterima, yang berakhir pemakluman.

Berganti perkara saat menjelang ujian akhir nasional. Standar kelulusan yang dinaikkan dari 3,01 di tahun sebelumnya menjadi 4,01 membuat jadwal di sekolah pagi semakin padat. Karena jam pelajaran dirasa kurang, merambahlah jadwal sampai malam, sampai jam 22.00. Waktu yang terlalu larut untuk berada di kelas.

Energi saya terkuras. Jadwal saya semakin tak waras. Masuk jam 06.30, pulang jam 13.30, masuk sekolah Diniyyah jam 14.00 sampai jam 16.30, ba’da magrib full, ba’da Isya masuk kelas lagi sampai jam 22.00, pulang dengan membawa PR, belum lagi menyiapkan waktu untuk menyimak secara khusus hafalan beberapa adik saya yang akan khotaman Juz ’Amma. Berakhir minimal jam sebelas malam. Esoknya, berlanjut ke ritual pagi dari sebelum shubuh.

Saya semakin jarang mengaji dan penyakit ngantuk saya semakin menjadi. Tidur di jam pelajaran Sejarah, yang saya pikir saya terlalu banyak dibohongi. Atau di jam pelajaran fisika, yang konsentrasi saya sudah tidak cukup untuk menghadapi rumus-rumusnya. Atau jam Bahasa Indonesia yang melulu dijejali pelajaran imbuhan dan sejenisinya, yang membuat saya bosan sebelum bisa. Cukup jam Kimia, Biologi dan Matematika membuat santai, saya tidak punya alasan untuk ngantuk. Apalagi guru-guru kami di bidang ini sering mengajak berTuhan secara sadar. Menyenangkan sekali pelajaran yang diawali dengan diajak bersyukur, di tengahnya diingatkan banyak hal, dan diakhiri dengan membahas ”Demi masa”.

Semakin terasa saja perjalanan guru ngaji saya, karena beliau juga mengajar saat masih SMA. Semuanya berjalan begitu saja atas pengaturanNya. Toh dulu saya berdoa, ”ya Allah, dimanapun saya berada, ijinkan saya untuk mengabdi”. Barangkali pengabdian itu ada di antara keseharian yang menurut saya tak waras, karena saya mengira tak cukup tenaga untuk menjalaninya. Atas izinNya, semua jadi bisa saja..

Kenangan lain yang membekas adalah beberapa teman sering mengirim ayat-ayat. Terkadang isyarat-isyarat dalam sobekan kertas.

”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan”.

”Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab yang mulia”.

”Itu adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Kata ”petunjuk” menarik saya semakin kuat ingin segera mengerti apa yang ada di Al-Qur’an. Sampai suatu saat saya di ingatkan “Janganlah kamu tergesa-gesa dalam membacanya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami untuk mengumpulkan di dadamu”.

Kemudian saya berdoa. Do’a yang tiap kali khotaman dilantunkan dengan indah
“nawwir yaa Rahman, nawwir quluubanaa bi nuuril Qur’an”



Menjelang khotaman- 18 Maret, 2010
Ayo sekolah nyang Madrasah Al-Qur’an, podho ngaji Qur’an ana Mangkuyudan
- Kiai Ahmad Umar -


*bongkar-bongkar tulisan tahun 2010, ditulis ketika saya benar-benar kangen dengan suasana pesantren. setelah dibaca kembali, rasanya lucu.hehe. 

Selamat Malam, Dik


Selamat malam, Dik. Enam belas tahun yang lalu, aku diminta ibu menungguimu, bahkan ketika kau terlelap. Malam baru sampai pada awalnya, tapi kau sudah kelelahan. Mungkin karena sedari siang kau melangkah terlampau banyak, tertawa terlalu keras dan berjingkrak teramat sering.

Malam itu, nyamuk tak berani mengganggu kita. Ibu sudah memasangkan kelambu. Suara kodok yang biasanya ribut selepas hujan deras, kini senyap. Aku merasakan malam itu singkat. Sesingkat jarak antara firasat dan kejadian sesungguhnya. Dan aku tak mau membuang waktu. Kupeluk kau erat-erat, kutatap lekat-lekat. Aku tahu ini kehilangan, tapi kehilangan apa? Bukankah kau bukan milikku?

Selamat malam, Dik. Sekarang dua puluh empat tahun usiaku. Tentang usiamu, entah. Aku tak lagi ingin menghitung. Bukan apa-apa. Sebatas mengusir pengandaianku, betapa saat ini dirimu sudah dewasa.

Selamat malam, Dik. Semoga mimpi indah. Kami disini percaya, Tuhan-lah pengasuh terbaik.



Semarang, Oktober 2011

Sabtu, 08 Juni 2013

Surat dari Bulan Juni

Semoga keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah terlimpah padamu.

Tiba-tiba saja, aku ingin mengucapkan salam padamu dengan bahasa yang kita mengerti. Menghayati dan mengaminka sebuah doa dengan sungguh.

Salam, doa keselamatan, memang sangat mesra jika kita ucapkan sejak awal bertemu. Apalagi yang diharapkan pertama kali selain keselamatan? Seperti yang kau tahu, dunia di luar sana tengah hiruk pikuk. Bertengkar atas segala sesuatu, berebut, bersitegang, bahkan saling menghantam. Yang mengaku pemimpin melupakan apa yang diamanahkan, yang mengaku rakyat lupa apa yang semsetinya dilakukan. Ada masanya kita menjadi sangat tidak mengerti atas segalanya. Maka doa keselamatan untukmu yang aku panjatkan. Agar kau tetap dijaga dari hingar bingar, yang akan mengeruhkan embun di jiwamu. Agar kau tetap selamat, dunia dan akhirat.

Di antara semua keributan itu, semoga kau tetap menjadi barisan dari mereka yang bertindak. Mengerjakan banyak hal yang membangun sambil terus menyusun cita-cita yang bertumbuh. Semakin waktu berjalan, semakin besar dan luas jangkauan cita-citamu. Apalagi yang diharapkan dari seseorang yang baik, jika tidak menggerakkan kebaikan bagi sekitarnya; bagi kita, bagi keluarga, bagi saudara dan bagi umat.

Mungkin akan melelahkan ketika dirimu kau kerahkan penuh. Tapi tidak perlu cemas, kita akan menyusun tempat-tempat untuk sekedar menghela nafas yang terengah atau merehatkan langkah yang jenuh. Mari bercerita tentang jalan-jalan yang sudah dilampaui, syukur yang semestinya dipanjatkan dan doa-doa sunyi yang kita simpan rapat sebelumnya. Atau percakapan ringan tentang bagaimana kau belajar naik sepeda semasa kecil sepertinya menyenangkan.

Kemudian kita akan melangkah kembali dengan semangat yang seakan tidak akan surut. Kita kalahkan pagi yang menggigil, kita jinakkan jalan-jalan berkerikil. Dan yang terpenting, kita taklukkan segala kemalasan dan alasan yang sempat mengerdilkan. Terdengar heroik dan menyenangkan, bukan?

Mari aku sambut tanganmu. Kita melangkah kembali.

Salam kangen dariku yang sering kau puisikan,
Bulan Juni

Kamis, 09 Mei 2013

Tentang Cinta

Pada suatu hari, Tuhan.. Tolong ijinkan kami bercerita tentang cinta. Walaupun kami sungguh tak banyak mengerti apa-apa.

Mungkin cinta ada pada ramahnya seorang sahabat, pemurahnya sepasang tangan dan hangatnya sebuah hati. Maka musim semi akan indah sekali. Bunga-bunga tak hanya bermekaran di taman, tapi juga di jantung kami, memenuhi segenap aliran darah kami. Bahkan mungkin udara yang kami hirup adalah bunga itu. Sehingga paru-paru kami sesak karena bahagia yang tak terperi.

Mungkin juga, cinta ada pada mata yang redup, hati yang resah dan langkah yang semakin gontai. Bukankah pada angin kemarau yang meniupkan ngilu juga mengantarkan cinta? Meluruhlah segenap embun dibawanya. Pohon-pohon yang tadinya rimbun menghijau, menyerahkan daun-daun di ranting yang lesu. Semuanya seperti akan padam, surut dan kusut. Sengat matahari, sungai mengering, tanah retak. Semua tetap lirih memanggilMu dengan suara yang tak pernah sampai kepada telinga.

Pada suatu hari, Tuhan.. ijinkan kami berkisah tentang cinta. Yang kami lihat, cinta adalah air yang tak lelah mengalir dari hulu ke hilir, menempuh perjalanannya ke angkasa, tersuruk-suruk di tetanah dan pepasir. Cinta juga musim. Bergilir dari dingin yang membuat kami menggigil, semi yang semarak, panas yang terik dan gugur yang meredup. Tapi sungguh, kami masih tak banyak mengerti apa-apa tentang cinta. Kami hanya mengerti bahwa jika lentera kami padam, Kau yang menyalakannya kembali.

Pada suatu hari ijinkan kami benar-benar mengerti.


Jalan*


Berjalan pada lintasan yang tak pernah besinggungan, bukan berarti tak pernah ada pertemuan. Tuhanlah yang membuatnya memulai, bertemu kemudian melangkah bersama.

Sulit dimengerti. Tapi inilah masa depan yang tidak bisa kita baca dari manapun. Bahkan dari jarak sedetik sebelumnya. Tuhan memang senantiasa memberikan kita bingkisan yang tertutup rapat, dalam penjagaan para malaikat yang senantiasa taat. Diliputi wewangian langit yang tidak pernah terendus siapapun. Nun jauh di sana, namun menyatu ketika saatnya tiba.

Jika suatu saat menemukan seseorangyang datang kemudian kau bersedia menyambut, mungkin itulah waktu bagimu untuk menempuhnya. Melangkah bersama, merasakan rasa saling, merangkai cita-cita dalam rumah yang teduh, membekali generasi baru dengan kehangatan kasih, menebar kebaikan bagi segala yang kalian temui nanti. Hari-hari itu akan sangat mendebarkan setiap detiknya, bagi hatimu yang telah lama mengimani janji Tuhan;“Bukankah kebiakan akan berbalas kebaikan?

Akan ada waktunya juga kalian harus berjalan menanjak, menghalau duri-duri tajam, atau membuktikan wujud cinta yang sesungguhnya; menyublim dalam ketiadaan. Kalau pun terengah-engah, kalian pasti tidak akan lelah. Air mata, keringat dan darah yang tercecer tidak akan pernahsia-sia. Masih ada tangan dan wajah yang terus menengadah, mengharap Cinta terindah.

Jalan itulah yang akan kau tempuh.Seseorang di persimpangan merengkuh dan menyalakan lampu-lampu yang akan terus menyala, ketika kau menyambutnya.


Semarang, 7 April2013


*sebuah kado pernikahan untuk saudara perempuan saya.