Jumat, 28 Juni 2013

Selamat Malam, Dik


Selamat malam, Dik. Enam belas tahun yang lalu, aku diminta ibu menungguimu, bahkan ketika kau terlelap. Malam baru sampai pada awalnya, tapi kau sudah kelelahan. Mungkin karena sedari siang kau melangkah terlampau banyak, tertawa terlalu keras dan berjingkrak teramat sering.

Malam itu, nyamuk tak berani mengganggu kita. Ibu sudah memasangkan kelambu. Suara kodok yang biasanya ribut selepas hujan deras, kini senyap. Aku merasakan malam itu singkat. Sesingkat jarak antara firasat dan kejadian sesungguhnya. Dan aku tak mau membuang waktu. Kupeluk kau erat-erat, kutatap lekat-lekat. Aku tahu ini kehilangan, tapi kehilangan apa? Bukankah kau bukan milikku?

Selamat malam, Dik. Sekarang dua puluh empat tahun usiaku. Tentang usiamu, entah. Aku tak lagi ingin menghitung. Bukan apa-apa. Sebatas mengusir pengandaianku, betapa saat ini dirimu sudah dewasa.

Selamat malam, Dik. Semoga mimpi indah. Kami disini percaya, Tuhan-lah pengasuh terbaik.



Semarang, Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar