Selamat malam, Dik. Enam belas tahun yang lalu, aku diminta ibu
menungguimu, bahkan ketika kau terlelap. Malam baru sampai pada awalnya, tapi
kau sudah kelelahan. Mungkin karena sedari siang kau melangkah terlampau
banyak, tertawa terlalu keras dan berjingkrak teramat sering.
Malam itu, nyamuk tak berani mengganggu kita. Ibu sudah memasangkan
kelambu. Suara kodok yang biasanya ribut selepas hujan deras, kini senyap. Aku
merasakan malam itu singkat. Sesingkat jarak antara firasat dan kejadian
sesungguhnya. Dan aku tak mau membuang waktu. Kupeluk kau erat-erat, kutatap
lekat-lekat. Aku tahu ini
kehilangan, tapi kehilangan apa? Bukankah kau bukan milikku?
Selamat malam, Dik. Sekarang dua puluh empat tahun usiaku. Tentang usiamu, entah. Aku tak
lagi ingin menghitung. Bukan apa-apa. Sebatas mengusir pengandaianku, betapa
saat ini dirimu sudah dewasa.
Selamat malam, Dik. Semoga mimpi indah. Kami disini percaya, Tuhan-lah
pengasuh terbaik.
Semarang, Oktober 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar