Semakin bertambah tahun, semakin banyak paksaan, ”Ayo datang
khotaman!” Alasannya, 5 kali khotaman saya tidak kelihatan. Saya
berkelit, ”Solo-Kendal cukup jauh, tidak mudah mengantongi ijin dari
rumah”. Biarpun sudah hampir 6 tahun terlewatkan, rasanya baru kemarin,
ketika hiruk pikuk persiapan khotaman di depan mata. Sebagian besar
santri disibukkan dengan semaan. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an semarak
sekali, baik di pondok putra ataupun pondok putri.
Saya terlibat
dan menyaksikan ritual itu sejak usia 11 sampai 17 tahun. Ritual
sebagai peringatan pungkasan dari sedemikian panjang proses mengaji.
Kenangan saat saya mengaji banyak. Tidak cukup semalaman untuk
menceritakan. Jadi, anggap saja ini sebagai ringkasan.
Kali
pertama saya mengaji, mungkin prosesnya biasa saja. Dimana santri mulai
dibenahi makhorijul huruf dan tajwidnya. Masalah klasik bagi para pemula
berupa makhorijul huruf dan tajwid yang masih belepotan. Susah
membedakan kedalaman ha, kha, kho. Terbalik membunyikan sho, sin, syin.
Masih kebingungan kapan dibaca jelas, berdengung atau memanjangkan
beberapa alif. Biasanya guru kami melakukannya dengan menahan kami di
surat Al-Fatihah sampai sekian lama, sampai sekiranya makhorijul huruf
dan tajwid kami tidak terlalu berantakan. Baru bacaan kami melanjut ke
surat An-Naas. Untuk tingkat Juz ’Amma, kami diwajibkan menghafal.
Sedangkan tingkat Bin-Nadhor, kami cukup membaca Al-Qur’an dengan
tartil. Namanya juga Bin-Nadhor, yang punya arti dengan melihat. Khusus
untuk Bil-Ghoib, bagi beliau-beliau yang siap menjadi penghafal
Al-Qur’an.
Ternyata, proses yang saya anggap biasa terasa ada
yang istimewa ketika diberi amanah beberapa adik untuk mengaji di
tingkat Juz ’Amma. Mungkin ibarat seorang perempuan yang merasa ibunya
teramat sangat istimewa ketika dia mempunyai anak. Istimewa karena
kesabaran diuji. Kesabaran menghadapi adik-adik dengan bawaan
masing-masing. Semuanya beragam. Dari yang cukup memoles sedikit, sampai
yang benar-benar harus ngoyo membenahi bacaannya. Dari yang cepat bisa
sampai yang luar biasa susah untuk bisa. Dari yang nurut sampai yang
ngeyel. Dari urusan ngaji sampai urusan masalah pribadi.
Saya
yang saat itu masih menempuh pendidikan di SMA, tentu berbeda dengan
mbak-mbak pengurus yang sudah kuliah. Selain usia yang masih muda dengan
kondisi psikologis yang belum matang, kendala yang terasa adalah jadwal
ngaji ba’da shubuh. Banyak adik-adik yang bangun kesiangan, yang
membuat saya menunggu lebih lama, sehingga terkadang waktu ngaji mepet
dengan waktu berangkat sekolah. Belum lagi saat guru ngaji Juz ’Amma
banyak yang berhalangan. Jika sudah demikian, akan berbuntut
keterlambatan saya ke sekolah, yang akan berurusan panjang dengan polisi
sekolah. Ditilang! Malasnya....
Kedua teman saya yang bernasib sama, masih cukup mujur. Mereka di Madrasah Aliyah, yang tidak ada polisinya.
(pak
Umam, piz.. hehe. Bagaimanapun juga, polisi sekolah seperti Pak Umam
sangatlah penting, mengingat ada murid-murid semacam saya ini.
Terimakasih atas disiplinnya yang bukan sekedar kata, pak..).
Akhirnya
saya harus membangunkan mereka tiap shubuh, mendatangi satu persatu ke
kamar masing-masing. Dan tentu saja saya sendiri harus sudah mandi
sebelum shubuh, karena setelah selesai mengaji tidak ada waktu untuk
mandi. Dengan demikian, keadaan membaik.
Ada lagi ketika absen
mengaji saya yang sangat minimal dipertanyakan oleh wali kelas. Kadang
Cuma seminggu sekali, paling banyak seminggu 6 kali. Padahal, waktu
ngaji dalam seminggu ada 11 kali. Yah, gimana lagi? Niat ngaji tetap
ada, tapi setiap sepulang bersama adik-adik, para guru Bin-Nadhor sudah
pulang karena murid-muridnya selesai mengaji dan bubar. Alasan yang
cukup bisa diterima, yang berakhir pemakluman.
Berganti perkara
saat menjelang ujian akhir nasional. Standar kelulusan yang dinaikkan
dari 3,01 di tahun sebelumnya menjadi 4,01 membuat jadwal di sekolah
pagi semakin padat. Karena jam pelajaran dirasa kurang, merambahlah
jadwal sampai malam, sampai jam 22.00. Waktu yang terlalu larut untuk
berada di kelas.
Energi saya terkuras. Jadwal saya semakin tak
waras. Masuk jam 06.30, pulang jam 13.30, masuk sekolah Diniyyah jam
14.00 sampai jam 16.30, ba’da magrib full, ba’da Isya masuk kelas lagi
sampai jam 22.00, pulang dengan membawa PR, belum lagi menyiapkan waktu
untuk menyimak secara khusus hafalan beberapa adik saya yang akan
khotaman Juz ’Amma. Berakhir minimal jam sebelas malam. Esoknya,
berlanjut ke ritual pagi dari sebelum shubuh.
Saya semakin
jarang mengaji dan penyakit ngantuk saya semakin menjadi. Tidur di jam
pelajaran Sejarah, yang saya pikir saya terlalu banyak dibohongi. Atau
di jam pelajaran fisika, yang konsentrasi saya sudah tidak cukup untuk
menghadapi rumus-rumusnya. Atau jam Bahasa Indonesia yang melulu
dijejali pelajaran imbuhan dan sejenisinya, yang membuat saya bosan
sebelum bisa. Cukup jam Kimia, Biologi dan Matematika membuat santai,
saya tidak punya alasan untuk ngantuk. Apalagi guru-guru kami di bidang
ini sering mengajak berTuhan secara sadar. Menyenangkan sekali pelajaran
yang diawali dengan diajak bersyukur, di tengahnya diingatkan banyak
hal, dan diakhiri dengan membahas ”Demi masa”.
Semakin terasa
saja perjalanan guru ngaji saya, karena beliau juga mengajar saat masih
SMA. Semuanya berjalan begitu saja atas pengaturanNya. Toh dulu saya
berdoa, ”ya Allah, dimanapun saya berada, ijinkan saya untuk mengabdi”.
Barangkali pengabdian itu ada di antara keseharian yang menurut saya tak
waras, karena saya mengira tak cukup tenaga untuk menjalaninya. Atas
izinNya, semua jadi bisa saja..
Kenangan lain yang membekas adalah beberapa teman sering mengirim ayat-ayat. Terkadang isyarat-isyarat dalam sobekan kertas.
”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan”.
”Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab yang mulia”.
”Itu adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Kata
”petunjuk” menarik saya semakin kuat ingin segera mengerti apa yang ada
di Al-Qur’an. Sampai suatu saat saya di ingatkan “Janganlah kamu
tergesa-gesa dalam membacanya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami untuk
mengumpulkan di dadamu”.
Kemudian saya berdoa. Do’a yang tiap kali khotaman dilantunkan dengan indah
“nawwir yaa Rahman, nawwir quluubanaa bi nuuril Qur’an”
Menjelang khotaman- 18 Maret, 2010
Ayo sekolah nyang Madrasah Al-Qur’an, podho ngaji Qur’an ana Mangkuyudan
- Kiai Ahmad Umar -
*bongkar-bongkar tulisan tahun 2010, ditulis ketika saya benar-benar kangen dengan suasana pesantren. setelah dibaca kembali, rasanya lucu.hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar