Jumat, 28 Juni 2013

Kenangan Mengaji Seorang Santri

Semakin bertambah tahun, semakin banyak paksaan, ”Ayo datang khotaman!” Alasannya, 5 kali khotaman saya tidak kelihatan. Saya berkelit, ”Solo-Kendal cukup jauh, tidak mudah mengantongi ijin dari rumah”. Biarpun sudah hampir 6 tahun terlewatkan, rasanya baru kemarin, ketika hiruk pikuk persiapan khotaman di depan mata. Sebagian besar santri disibukkan dengan semaan. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an semarak sekali, baik di pondok putra ataupun pondok putri.

Saya terlibat dan menyaksikan ritual itu sejak usia 11 sampai 17 tahun. Ritual sebagai peringatan pungkasan dari sedemikian panjang proses mengaji. Kenangan saat saya mengaji banyak. Tidak cukup semalaman untuk menceritakan. Jadi, anggap saja ini sebagai ringkasan.

Kali pertama saya mengaji, mungkin prosesnya biasa saja. Dimana santri mulai dibenahi makhorijul huruf dan tajwidnya. Masalah klasik bagi para pemula berupa makhorijul huruf dan tajwid yang masih belepotan. Susah membedakan kedalaman ha, kha, kho. Terbalik membunyikan sho, sin, syin. Masih kebingungan kapan dibaca jelas, berdengung atau memanjangkan beberapa alif. Biasanya guru kami melakukannya dengan menahan kami di surat Al-Fatihah sampai sekian lama, sampai sekiranya makhorijul huruf dan tajwid kami tidak terlalu berantakan. Baru bacaan kami melanjut ke surat An-Naas. Untuk tingkat Juz ’Amma, kami diwajibkan menghafal. Sedangkan tingkat Bin-Nadhor, kami cukup membaca Al-Qur’an dengan tartil. Namanya juga Bin-Nadhor, yang punya arti dengan melihat. Khusus untuk Bil-Ghoib, bagi beliau-beliau yang siap menjadi penghafal Al-Qur’an.

Ternyata, proses yang saya anggap biasa terasa ada yang istimewa ketika diberi amanah beberapa adik untuk mengaji di tingkat Juz ’Amma. Mungkin ibarat seorang perempuan yang merasa ibunya teramat sangat istimewa ketika dia mempunyai anak. Istimewa karena kesabaran diuji. Kesabaran menghadapi adik-adik dengan bawaan masing-masing. Semuanya beragam. Dari yang cukup memoles sedikit, sampai yang benar-benar harus ngoyo membenahi bacaannya. Dari yang cepat bisa sampai yang luar biasa susah untuk bisa. Dari yang nurut sampai yang ngeyel. Dari urusan ngaji sampai urusan masalah pribadi.

Saya yang saat itu masih menempuh pendidikan di SMA, tentu berbeda dengan mbak-mbak pengurus yang sudah kuliah. Selain usia yang masih muda dengan kondisi psikologis yang belum matang, kendala yang terasa adalah jadwal ngaji ba’da shubuh. Banyak adik-adik yang bangun kesiangan, yang membuat saya menunggu lebih lama, sehingga terkadang waktu ngaji mepet dengan waktu berangkat sekolah. Belum lagi saat guru ngaji Juz ’Amma banyak yang berhalangan. Jika sudah demikian, akan berbuntut keterlambatan saya ke sekolah, yang akan berurusan panjang dengan polisi sekolah. Ditilang! Malasnya....
Kedua teman saya yang bernasib sama, masih cukup mujur. Mereka di Madrasah Aliyah, yang tidak ada polisinya.
(pak Umam, piz.. hehe. Bagaimanapun juga, polisi sekolah seperti Pak Umam sangatlah penting, mengingat ada murid-murid semacam saya ini. Terimakasih atas disiplinnya yang bukan sekedar kata, pak..).

Akhirnya saya harus membangunkan mereka tiap shubuh, mendatangi satu persatu ke kamar masing-masing. Dan tentu saja saya sendiri harus sudah mandi sebelum shubuh, karena setelah selesai mengaji tidak ada waktu untuk mandi. Dengan demikian, keadaan membaik.

Ada lagi ketika absen mengaji saya yang sangat minimal dipertanyakan oleh wali kelas. Kadang Cuma seminggu sekali, paling banyak seminggu 6 kali. Padahal, waktu ngaji dalam seminggu ada 11 kali. Yah, gimana lagi? Niat ngaji tetap ada, tapi setiap sepulang bersama adik-adik, para guru Bin-Nadhor sudah pulang karena murid-muridnya selesai mengaji dan bubar. Alasan yang cukup bisa diterima, yang berakhir pemakluman.

Berganti perkara saat menjelang ujian akhir nasional. Standar kelulusan yang dinaikkan dari 3,01 di tahun sebelumnya menjadi 4,01 membuat jadwal di sekolah pagi semakin padat. Karena jam pelajaran dirasa kurang, merambahlah jadwal sampai malam, sampai jam 22.00. Waktu yang terlalu larut untuk berada di kelas.

Energi saya terkuras. Jadwal saya semakin tak waras. Masuk jam 06.30, pulang jam 13.30, masuk sekolah Diniyyah jam 14.00 sampai jam 16.30, ba’da magrib full, ba’da Isya masuk kelas lagi sampai jam 22.00, pulang dengan membawa PR, belum lagi menyiapkan waktu untuk menyimak secara khusus hafalan beberapa adik saya yang akan khotaman Juz ’Amma. Berakhir minimal jam sebelas malam. Esoknya, berlanjut ke ritual pagi dari sebelum shubuh.

Saya semakin jarang mengaji dan penyakit ngantuk saya semakin menjadi. Tidur di jam pelajaran Sejarah, yang saya pikir saya terlalu banyak dibohongi. Atau di jam pelajaran fisika, yang konsentrasi saya sudah tidak cukup untuk menghadapi rumus-rumusnya. Atau jam Bahasa Indonesia yang melulu dijejali pelajaran imbuhan dan sejenisinya, yang membuat saya bosan sebelum bisa. Cukup jam Kimia, Biologi dan Matematika membuat santai, saya tidak punya alasan untuk ngantuk. Apalagi guru-guru kami di bidang ini sering mengajak berTuhan secara sadar. Menyenangkan sekali pelajaran yang diawali dengan diajak bersyukur, di tengahnya diingatkan banyak hal, dan diakhiri dengan membahas ”Demi masa”.

Semakin terasa saja perjalanan guru ngaji saya, karena beliau juga mengajar saat masih SMA. Semuanya berjalan begitu saja atas pengaturanNya. Toh dulu saya berdoa, ”ya Allah, dimanapun saya berada, ijinkan saya untuk mengabdi”. Barangkali pengabdian itu ada di antara keseharian yang menurut saya tak waras, karena saya mengira tak cukup tenaga untuk menjalaninya. Atas izinNya, semua jadi bisa saja..

Kenangan lain yang membekas adalah beberapa teman sering mengirim ayat-ayat. Terkadang isyarat-isyarat dalam sobekan kertas.

”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan”.

”Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab yang mulia”.

”Itu adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Kata ”petunjuk” menarik saya semakin kuat ingin segera mengerti apa yang ada di Al-Qur’an. Sampai suatu saat saya di ingatkan “Janganlah kamu tergesa-gesa dalam membacanya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami untuk mengumpulkan di dadamu”.

Kemudian saya berdoa. Do’a yang tiap kali khotaman dilantunkan dengan indah
“nawwir yaa Rahman, nawwir quluubanaa bi nuuril Qur’an”



Menjelang khotaman- 18 Maret, 2010
Ayo sekolah nyang Madrasah Al-Qur’an, podho ngaji Qur’an ana Mangkuyudan
- Kiai Ahmad Umar -


*bongkar-bongkar tulisan tahun 2010, ditulis ketika saya benar-benar kangen dengan suasana pesantren. setelah dibaca kembali, rasanya lucu.hehe. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar