Senin, 07 Maret 2016

Bulan ke 10

Sebenarnya ingin mencatat tumbuh dan kembang Shofi tiap bulannya. Bagaimana kekhawatiran demi kekhawatiran dilalui sambil menengadahkan tangan penuh dengan harapan.

Iya Nak, Ibu merasa hanya bisa melalui kekhawatiran tadi. Dari masalah ASI yang seret, berat badan yang tak kunjung naik, makan yang tak cukup lahap, tumbuh kembang yang mencemaskan hingga hal-hal seperti kenapa Shofi mudah sekali menangis ketika bertemu orang baru.

Memang benar ibu seorang dokter, tapi ibu sungguh buta dengan bagaimana merawat bayi yang baik. Ibu tidak cukup mengerti bagaimana kontrol stress yang baik agar ASI tetap lancar, sama sekali tidak paham kenapa Shofi lebih banyak menolak makanan yang ibu berikan dan bagaimana sebenarnya karakter Shofi sehingga ibu bisa bersikap yang sesuai. Hal inilah yang sering membuat ibu menangis dan mohon ampun, semoga Allah memaafkan segala kesalahan ibu dalam mengasuh Shofi.

Allah semata yang menolong ibu, dipertemukan dengan beberapa sahabat untuk bertukar pengalaman. Eh lebih tepatnya ibu yang mengais pengalaman. Sedikit demi sedikit ibu belajar dari mereka, dari pola dasar gaya belajar bayi, makanan seperti apa yang membuat Shofi lahap makan, apa yang harus dilakukan agar Shofi bisa segera duduk dan sebagainya.

Shofi memang unik dalam banyak hal. Misalnya masalah makan. Waktu Shofi umur 6 bulan, ibu sudah berusaha mencoba resep MPASI yang banyak disukai bayi, ternyata belum cocok di Shofi. Shofi yang masih belajar tekstur makanan,  Shofi yang tidak suka dengan rasa makanan tertentu (misalnya makanan yang amis) dan banyak lagi tantangan.

Ibu juga terus saja khawatir kenapa Shofi belum bisa duduk ketika usia 7 bulan.  Panik bertanya kesana kemari, usia berapa rata-rata bayi bisa duduk dan paling lambat usia berapa. Sampai trik apa yang membuat anak segera bisa duduk.

Ya begitulah, Nak.. Lain waktu kita cerita satu-satu ya, barangkali ada yang mengambil manfaat dari tulisan ini.

Sudah larut malam, Yuk bobok :)

Kamis, 05 November 2015

Sebuah Cinta

Ada masanya kita seperti berhenti sejenak di perjalanan ini. Merenungkan apa-apa yang sudah terlampaui, menikmati senja yang lebih tenang dari biasanya dan hari-hari yang tak tergesa. Ada ruang yang terasa sangat lapang, membuat kita bernafas lebih leluasa. Ada waktu untuk termangu, membayangkan senyummu yang beberapa pekan lagi menjadi nyata.

Masa ini memang menyenangkan. Mimpiku hanya tentang bagaimana memberimu segala hal terbaik. Sentuhan terbaik, makanan terbaik, kasih sayang terbaik. Agar kelak kau bertumbuh sempurna menjadi manusia yang mengikuti petunjuk dari Tuhan semata, serta dalam penjagaan dan jaminanNya.

Kau tahu, menyenangkan sekali telah memendam cinta untukmu sebelum kita bertemu. Setiap nafas dan detak jantungku telah menyapamu begitu dekat. Lebih dekat dari sahabat yang siap menyodorkan telinga ketika kau membutuhkan tempat bercerita. Setiap aliran darah menjadi penghubung rasa sayang yang tak pernah berhenti berdesir.

Suatu saat di masa depan nanti kita akan berjumpa, berpelukan dengan nyata.

Sabtu, 13 Desember 2014

Selamat Ulang Tahun, Desember

Selamat pagi, Mas.
Setiap kali bangun tidur, aku berharap ada seseorang di samping, yang ingin aku pandangi dalam lelapnya. Tapi tidak mengapa, aku akan punya waktu untuk itu.

Kecup dan peluk dari kami untukmu, Mas. Tempat kami segar, hujan telah menjadi penghapus kerontang. Percakapan kami sudah semakin jauh. Dari menanyakan kabar setiap pagi, mengaji bersama, berjalan santai, hingga percakapan sebelum tidur. Dia tiba-tiba telah mengerti banyak hal, ketika Tuhan meniupkan ruhnya dan menganugerahkan pendengaran. Bagaimana tempatmu di sana, Mas? Apakah masih dingin? Apa kau masih bercakap-cakap dengan kesibukan yang tiada habisnya? Apakah kau cukup istirahat dan makan?

Salam kangen juga dari kami. Kangen yang entah tiada habisnya. Jangankan untuk waktu sekian bulan, melepasmu bepergian sehari saja membuat sebuah kamar di hati kami menjadi kosong. Lengang. Tapi sekali lagi tidak mengapa, kita akan ada waktu untuk kembali bersama. Atas ijin Tuhan, tentunya.

Ada banyak hal yang dapat kami lakukan dalam rentang waktu merindukanmu. Doa keselamatan, perlindungan, keberkahan dan banyak lagi doa-doa kami bisikkan. Lirih. Pengharapan yang penuh kami sandarkan kepada Tuhan yang teramat dekat, Yang Maha Mendengar dan Kasih.

Begitu juga hari ini, Mas. Doa-doa kami bisikkan, semoga Allah kabulkan.
Selamat ulang tahun, Mas. Semoga selalu dalam keberkahan yang berlimpah, panjang umur dalam kebaikan.

Kecup dan peluk dari kami.
Selamat ulang tahun, Desember.
:*

Rabu, 12 November 2014

Hidup yang Tak Biasa

Kita bisa berbincang agak panjang sore itu. Dengan keletihan dan air mata yang tidak mampu disembunyikan. "Kenapa?", kau selalu saja bertanya pendek untuk mendengar lebih lama. Sementara aku sedang tak ingin bercerita apa-apa. Menggelengkan kepala, lantas kembali mengusap air mata.

Perlahan-lahan aku mengumpulkan kata, tanpa menatapmu. "Aku ingin menjalani hidup normal seperti yang lainnya", antara setengah kesal dan setengah lagi putus asa. Aku memulai percakapan juga.

"Normal itu yang seperti apa?", ini pertanyaan paling menyebalkan yang pernah aku dengar. Bagaimana mungkin kau tidak tahu bagaimana kebanyakan orang menjalani hidup? Mereka berjalan dengan ritme yang sama dan mudah dibaca.

"Berkumpul dengan pasangannya, tidak berjauhan. Bercakap-cakap setiap hari, bergandengan tangan di waktu santai, berpelukan melepas penat, menumpahkan kangen setiap saat, bahu membahu membesarkan anak-anak, dan banyak hal lagi", kalimat sepanjang itu bisa aku susun ketika terisak. Entahlah. Mungkin karena sudah lama sekali ingin dikatakan.

"Normal itu, tergantung siapa yang memandang. Bisa jadi beda ketika kita yang menyusun ulang pengertiannya. Kita akan hidup dengan cara yang berbeda. Percayalah, kita tengah meraup keberkahan di dalamnya. Berapa banyak kerelaan dari orang tua kita, doa-doa mereka dan belimpah kemudahan bagi kita menjalani semuanya. Tidak akan mudah, tapi beginilah cara yang akan kita tempuh. Kira-kira, begitulah pengertian normal menurut kita". Kau juga mengucapkan semua itu dengan berkaca-kaca. Tangan kita masih bergenggaman, ingin melewatkan senja di bandara dengan hati yang lebih dekat.

Rabu, 22 Oktober 2014

Kisah

Perjalanan yang tidak seberapa ini, mungkin sudah cukup membuat kita lelah. Ingin istirahat sejenak untuk mengatur nafas, atau sekedar memandangi jalan yang telah dilalui. Ada banyak hal yang membuat kita tak henti-hentinya memuji Tuhan. Bersyukur.

Kaki yang entah sekuat apa, hati yang setabah apa, kita tidak tahu pasti. Aku sendiri hanya ingin bergembira menjalaninya. Tak henti-henti tertawa seperti kanak-kanak menikmati tempat-tempat baru yang menyenangkan. Jika kau dekat, mari rayakan kebersamaan. Jika berjarak, mari rayakan rindu. Anggaplah semua itu seperti musim. Bulan ini kemarau, bulan depan penghujan. Bergantian.

Kau sendiri telah menggenggam pemahaman-pemahaman yang mulia. Apa lagi yang harus aku khawatirkan? Maka jadilah purnama di rumah ini. Rumah yang telah kau kokohkan dengan janji di hadapan Tuhan, ketika tanganmu tergenggam. Janji yang membuat kita memulai sebuah kisah.


Minggu, 14 September 2014

Minggu ke Tiga

Selamat pagi.
Semoga keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan terlimpah.

Memasuki minggu ke tiga, rasanya sudah seperti tiga tahun saja. Semuanya memang relatif. Masa menunggu dengan penuh rindu membuat dimensi waktu memanjang dan dimensi ruang menyempit. Namun menyempitnya ruang tidak berarti membuat kita berhenti membaca jarak. Sudah tidak terhitung kekhawatiran yang selalu diiringi doa keselamatan dipanjatkan. Berharap semuanya dalam keadaan baik.

Minggu ke tiga ini juga menjadi minggu ke tujuh. Nanti, akan ada jantung lain yang berdenyut dalam diriku. Akan ada paru lain yang berkembang. Kita telah mengirinya dengan segenap kebaikan yang bisa diusahakan. Mencintainya sebelum dia hadir. Bersyukur atas setiap perubahan yang terjadi. Dan aku, berbahagia menahan mual sepanjang hari.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Itu dulu pertanyaan pertamamu untukku. Sekarang, ingin aku minta menjadi pertanyaanku padamu. Bertanya tentang rasa, tentu itu bagian yang sangat halus dari sanubari. Kita akan perlahan-lahan menyusuri jalannya rasa itu. Jika naik, akan ada kaki yang lebih kuat menapakinya. Jika turun, kita berlarian lepas. Jika berupa padang, akan kita jatuhkan pandangan jauh-jauh, mencari batas sebuah rentang.

Entah berapa minggu lagi akan kita lalui dalam jarak. Kita tak pernah tahu tentang itu. Yang kita tahu, Tuhan telah menghamparkannya untuk dilipat kembali. Menautkan tangan yang berjauhan.

Tuhan yang membentangkan, Tuhan pula yang menguatkan. Dan seribu lampu di hati kita telah dinyalakan.

Sabtu, 24 Mei 2014

Anak Perempuan

"Seorang anak perempuan akan menggenggam tanganmu ketika dia kecil, tapi dia akan menggenggam hatimu selamanya."

Entah kapan dan bersumber dari mana, sepertinya saya pernah membaca kalimat itu. Kalimat yang ditujukan kepada para ayah, yang diam-diam saya setujui setelah menyusuri segenap sudut hati.

Sungguh, kalimat itu sepenuhnya benar, setidaknya menurut saya. Seorang anak perempuan yang berwujud putri kecil akan sangat bahagia menggenggam tangan ayahnya. Keriangan yang tidak terperi. Kadang hatinya meloncat lebih tinggi dari jingkrak langkahnya ketika merasa berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Ketika bersama ayahnya, suasana hatinya lebih indah dari pagi dengan semburat kekuningan yang dilengkapi rekahan kuncup dan gayutan embun. Jika anak itu sudah diajarkan tentang surga, dia akan membayangkan sebahagia itulah berada di surga.

Perlahan raga dan jiwanya bertumbuh. Beberapa tanggung jawab dia ambil. Harinya semakin sibuk. Kau,  ayah, mulai merasa ada kekhawatiran dan jarak. Kau kehilangan keinginanmu untuk tidur ketika teman-teman seusianya terlihat mulai memikat dan terpikat lawan jenisnya, walaupun hal yang demikian tidak terlintas di benaknya. Pikiranmu kacau ketika ada pesan singkat dari laki-laki, meskipun hanya sekedar urusan kuliah atau pekerjaan. Kau sudah terburu-buru menyimpulkan, tanpa membaca apa isinya. Cemburu kah itu, Ayah? Kemudian kau merasa tidak mengenalnya lagi. Mengabaikan penjelasannya, bahkan mendiamkannya sekian waktu.

Tanpa kau tahu, dia merelakan apapun yang sanggup dia berikan untukmu. Dia patuh ketika kau melarang berteman dengan dengan laki-laki. Teman-temannya memang sibuk bercerita tentang bagaimana seharian dia ngobrol dengan pacarnya, mendapat perhatian, diajak jalan-jalan dan segala hal yang menarik bagi anak muda. Tapi dia tidak menginginkan itu. Kau kan sudah tahu, siapa cinta pertamanya. Jadi dia merasa tidak perlu sibuk dengan apa yang diperbincangkan teman-temannya. Kalaupun suatu saat dia akan jatuh cinta, dia akan menurut pada seleramu yang kau ceritakan dalam nasihat yang kau ulang-ulang selama belasan tahun; laki-laki yang senantiasa mengingat Tuhan dan negeri akhirat, halus budi, bertanggungjawab dan siap menjadi tulang, punggung dan jantung bagi istri dan anak-anaknya.

Entah kau sadari atau tidak, dia selalu saja memikirkan apa yang kau butuhkan ketika memasuki sebuah pertokoan. Sereal gandum, pereda nyeri topikal, masker, madu atau hal remeh temeh lain yang kau sendiri baru sadar menyukai selera barang-barang yang dipilihnya. Setiap kali uangnya sedikit berlebih, yang dia pikirkan adalah menyerahkan semuanya padamu. Kalau-kalau kau membutuhkan tambahan untuk sekedar beberapa rencana yang tak pernah kau bicarakan matang dengannya. Dia hanya yakin, yang ada dibenakmu adalah bagaimana agar anak-anaknya hidup lebih mudah, meskipun cara itu seringkali belum sesuai dengan keadaannya. Dalam kehidupannya, ada arah yang benar-benar ingin dia putuskan sendiri. Dia juga sepertimu, manusia yang menjalani pilihan-pilihan.
 
Suatu hari nanti, mungkin ada seseorang yang menghadap untuk meminta putrimu, Ayah. Membawanya untuk bertumbuh bersama, menjadi pribadi yang lebih baik. Kau tidak perlu terlalu cemas, kan kau sudah menjadi cinta pertamanya. Kau akan selalu ada dalam doa-doa terbaiknya. Dia masih akan sempat untuk sekedar membetulkan kemejamu yang agak berantakan. Setiap memandang wajahmu, hatinya masih seperti kanak-kanak. Berjingkrak-jingkrak saking bahagianya, ketika keadaanmu selalu sehat dan bahagia. Jika ada sedikit saja nyeri yang mengganggumu, dia masih akan risau seperti biasanya. Dia akan selalu menggenggam hatimu.

Percayalah padaku, para Ayah dan para calon Ayah, bahwa seorang anak perempuan akan menggenggam tanganmu ketika dia kecil, tapi dia akan menggenggam hatimu selamanya.


Minggu, 02 Februari 2014

Doa Hari Senin (Imam Ali Zainal Abidin)

Segala puji bagi Allah, yang mencipta langit dan bumi tanpa seorang saksi, yang menggelar makhluk tanpa seorang pembantu
Tiada sekutu dalam Ilahiyat-Nya, tidak ada setara dalam ketunggalan-Nya
Kelu lidah mengungkap sifat-Nya
Lemah akal memikirkan makrifat-Nya
Merendah segala penguasa karena kehebatan-Nya
Rebah segala wajah karena takut pada-Nya
Jatuh segala yang agung karena keagungan-Nya
Bagi-Mu segala puja-puja yang beruntun tak putus-putus
Shalawat dan salam bagi Rasul-Nya, salam yang kekal abadi

Ya Allah, jadikanlah permulaan hari ini kebaikan, pertengahannya kejayaan, dan pamungkasnya keuntungan
Aku berlindung pada-Mu dari hari yang permulaannya ketakutan, pertengahannya kecemasan, dan pamungkasnya kesedihan
Ya Allah, aku mohonkan ampun pada-Mu atas segala nazar yang kunazarkan, atas segala janji yang kujanjikan, atas segala akad yang kuakadkan, kemudian tak kupenuhi pada-Mu
Aku bermohon padaMu perihal ulahku menzalimi hamba-Mu
Bila ada hambaMu, pria dan wanita,
yang teraniaya karena kezalimanku pada diri dan kehormatannya, pada hartanya,
pada ahli dan keturunannya. Atau yang kugunjingkan kejelekannya, atau
yang kusengsarakan karena hawa nafsu, penghinaan, kesombongan, riya dan kesukuan,
yang hadir dan yang raib, yang hidup dan yang mati
Lalu lemah tanganku, sempit tenagaku, untuk mengembalikan haknya, dan meminta kerelaannya.
Karena itu, aku mohonkan pada-Mu wahai Yang Menguasai segala hajat
hajat yang terpanggil karena kehendak-Nya
hajat yang bergegas memenuhi iradat-Nya
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
Ridhakan dia padaku dengan apa yang Kau kehendaki
Berikan padaku dari sisi-Mu rakhmat
Ampunan tidak akan mengurangi keagungan-Mu,
Anugerah tidak akan meyusutkan kebesaran-Mu,
Wahai Yang Maha Kasih dari segala yang mengasihi
Ya Allah, berilah aku pada hari Senin ini dua kenikmatan:
Pada permulaannya: kebahagiaan menaati-Mu, Pada pamungkasnya: kenikmatan akan ampunan-Mu,
Wahai Dia Yang menjadi satu-satunya Tuhan. Selain Dia tiada yang dapat memberikan ampunan.


Sabtu, 18 Januari 2014

Merawat Kenangan

Rumah tua yang sepi, penghujan dan kenangan. Kami kemas semuanya dalam sebuah ziarah yang dilakukan diam-diam. Mengunjungi relung yang sebenarnya tidak pernah kami tinggalkan, tapi tiba-tiba saja menjelma sunyi. Percakapannya telah tergantikan riuh kesibukan yang sebenarnya membuat semakin menggigil. Kemudian kami mencari-cari kalimat yang dapat mencairkan gumpalan rindu.

Dulu, ada bunga jambu luruh. Ada percakapan akrab, hangatnya udara di sekitar tungku dan bau kopi. Wangi. Kau yang merangkul hati kami dengan tangan yang sampai sekarang masih terasa kasihnya. Jika kami laron, mungkin kau adalah cahaya kecil yang membuat kami rela berdesakan, menjadi sebuah pusaran. Jam tua yang bunyinya semakin usang tidak mampu mengingatkan kami bahwa akan ada masanya semuanya menjadi surut.

Pusaran itu perlahan terurai. Satu per satu pergi, menempuh jalan masing-masing. Bekerja, berkeluarga, mempunyai beberapa anak, sesekali mengunjungi dengan rindu yang mendesak-desak. Pergantian peran itu sudah semestinya terjadi. Yang tadinya anak, kini menjadi bapak dan ibu yang mempunyai anak juga. Tapi kau adalah cinta pertama kami. Semakin jauh perjalanan, semakin kami mengerti bahwa ada sebuah bilik di dalam hati yang penghuninya hanya dirimu. Hanya ada kau.

Mungkin karena itulah bapak tak juga beranjak dari sana. Menyempatkan satu atau dua jamnya dihabiskan di bangku tua itu, di rumah tua yang sering kami kunjungi diam-diam dalam ingatan. Mengganti lampu-lampu yang meredup, merawat kehangatan yang pernah ada di sini. Sendirian.

Jumat, 28 Juni 2013

Pemain ke Dua Belas


Pertandingan semifinal antara Indonesia dan Filipina membuat saya berfikir cukup lama. Bukan karena saya penggemar berat atau pengamat sepak bola. Toh baru akhir-akhir ini saya melihat pertandingan yang membuat saya sedikit mudeng alur ceritanya. Sebelumnya, saya sering dibuat pusing gara-gara mikir dan terheran-heran dengan orang-orang di lapangan hijau itu. Apa masalahnya, coba? Sampai membuat 22 orang harus berebut bola. Sampai-sampai harus ada wasit segala. Gawatnya, sampai bisa menyedot ribuan supporter fanatik yang berteriak-teriak di tepian.

Ditambah dengan membaca ulang buku lama (maksudnya, belinya sudah lama, tiga tahun yang lalu): Jika Perempuan Tidak Ada Dokter, berfikir saya semakin lama. Buku itu menceritakan masalah-masalah kesehatan perempuan yang sampai sekarang terus diupayakan untuk diperbaiki. Dari perkara perempuan dan pekerjaannya yang seringkali menjadi beban ganda, karena perempuan tetap melaksanakan tugas alamiahnya untuk hamil, melahirkan dan mengasuh anaknya. Tapi juga harus menanggung perekonomian keluarga. Sampai masalah kesehatan repoduksi untuk remaja.

Dengan sepak bola dan ‘Jika Perempuan Tidak Ada Dokter’, ingatan saya mendadak membaik ketika ingin saya pakai untuk merekam kejadian saat gawang Indonesia diamankan oleh Zulkifli dan Nasuha (ini namanya bener ndak ya?), yang sebenarnya bukan penjaga gawang. Kemudian, antara Zulkifli dan Nasuha yang mewakili sepak bola dan ‘Jika Perempuan Tidak Ada Dokter’ dipertemukan di kepala saya oleh sebuah kata yang terdiri dari lima huruf saja: p e r a n.

Apapun posisinya, semua pemain sepak bola mengusahakan dua hal: mencetak gol dan mengamankan gawang. Tidak peduli gelandang, penjaga gawang, penyerang atau pemain belakang. Pelatih juga sibuk memberikan arahan bagaimana mesti bermian yang baik. Bahkan, suporter yang sebenarnya tidak ada hak untuk menyentuh bola juga turut sibuk berteriak, melambaikan tangan, mengusung spanduk atau aksi-aksi yang lain. Seakan-akan mereka menjadi pemain ke dua belas.

Lalu, bagaimana dengan kesehatan perempuan (juga kesehatan secara umum)? Pertanyaan itu mungkin tidak sedahsyat pitakon kubur (baca: pertanyaan kubur). Tapi tetap saja mengerikan. Karena ternyata produk kesehatan masih seperti barang asongan (bisa lihat di note : http://www.facebook.com/note.php?note_id=245550982420). Para tenaga kesehatan seperti halnya para suporter sepak bola: menjadi pemain ke dua belas. Sibuk ’berteriak’ melarang, ’bersorak’ menyemangati, ’cerewet’ melarang ini-itu, menjelaskan tetek-bengek yang belum tentu dipahami. Padahal para pemain duduk-duduk saja di tengah lapangan. Bersantai melihat segala sesuatu merongrong kesehatannya secara cepat atau perlahan. Kalaupun ada yang menendang, sama sekali tak terarah. Sembarangan. Sedikit yang tepat sasaran.

Boleh jadi, saya dianggap terlalu berlebihan. Karena di sana-sini sudah muncul data berupa angka, yang menjelaskan bahwa semuanya sudah lebih baik. Tapi tetap saja saya masih risau ketika saya hanya bisa menjadi pemain ke dua belas. Berperan menjadi orang cerewet yang gaduh di tepian. Mari melihat contoh nyatanya. Berapa banyak ibu-ibu di Rumah Sakit Umum Daerah yang sehabis menjalani operasi sectio saecaria yang menolak makan makanan tinggi protein seperti telur atau ikan? Nasihat makan makanan yang bergizi kalah telak dengan anggapannya, bahwa seseorang yang punya luka akan bertambah parah dengah makan telur atau ikan. Mereka malah berpuasa makan enak. Tidak jarang yang hanya makan nasi dengan kuah yang dibubuhi garam saja.

Ah, mungkin saya terlalu rindu kenaikan pangkat saya. Dari pemain ke dua belas menjadi pelatih. Yang jika berbisik saja sudah dipatuhi. Karena para pemain sungguh paham benar, bahwa yang dikatakan pelatih adalah untuk kemenangan.

Desember, 2010
curhat dong.. heehe
inget akhir tahun tahu. ketika saya deg-degan kepingin lihat Indonesia Seaht 2010. eh, malah ada yang ketawa, terus bilang, "Itu 2010 Hijriyyah, bukan 2010 Masehi.."
duh, duh, duh.. saya mengaduh. alah, malah bikin gaduh.

*kalo baca ini lagi, kok saya merasa imut banget ya.hahahaha

Rahasia


Senja ini saya terbangun dengan kepala yang masih pening. Memang siang tadi saya beristirahat karena merasa tubuh memang tengah membutuhkan rehat. Mungkin karena lama sekali saya tidak menuliskan sesuatu. Atau menumpahkan kisah yang terlalu penuh dalam ingatan. Ah, memang semua kisah itu tidak untuk saya bagi saat ini. Banyak hal telah melatih saya menyembunyikan, merahasiakan, menutupi, atau apalah itu.

Sayangnya, seringkali saya seperti selembar daun yang tak sanggup menampung lelehan embun. Pasti ada yang harus saya tumpahkan. Ada juga yang tumpah dengan sendirinya. Maka, akan saya tumpahkan saja pada samudera yang sejak lama menjadi tempat awan menenggak banyak air. Biar menjadi hujan. Biar menjelma menjadi hijau yang menghampar.

Samudera itu, biarlah menenggelamkan saya di kedalaman yang tak pernah saya tahu dasarnya. Di luas yang tak pernah saya tahu tepinya. Saya hanya yakin saja, di sana hanya ada cinta dalam berbagai rupa. Rupa pantulan matahari, rupa bayangan purnama, rupa lembayung ketika pagi dan senja, rupa mutiara, rupa karang. Bahkan mungkin ada rupa surga, tempat aku bisa melepas rindu padaMu.

Kendal, 1 April 2011

Negeri Kupu-kupu

akan aku kabarkan di hari depan, bahwa aku tinggal di negeri kupu-kupu. di kebun, di dinding rumah, di pelataran, di jalan. semua ada kupu-kupu. bahkan mungkin, di udara yang kami hirup terbuat dari kupu-kupu.

itulah yang akan aku ceritakan. kalian pasti akan terheran-heran dan mengagumi, betapa negeriku indah luar biasa.

tapi, mengertikah kalian, bahwa negeri kupu-kupu itu mungkin butuh waktu untuk mewujudkannya. untuk sekarang, aku baru sampai pada ulat. dan selanjutnya kepompong.

jadi, saat ini beginilah negeriku mesti bertahan sebagai negeri ulat. di kebun, di dinding-dinding rumah, di pelataran. semuanya ulat.

bisakah kalian bersabar menunggu cerita negeri kupu-kupu ku?

Dalam Hari

Jika angin tengah kencang-kencangnya, berarti bukan waktu yang baik untuk melihat rawa-rawa yang kita kagumi sepanjang malam purnama. Air di sana tengah riuh bergerak, menuruti arah angin pergi. Bertabrakan satu sama lain, pecah, bergerak lagi, pecah, bergerak lagi.

Tapi bukan berarti kita harus bersedih. Ini hanyalah hari yang dipenuhi angin kencang  dari pagi sampai senjanya. Dan esok, mungkin akan berbeda. Kita akan bertemu dengan suasana lain. Entah hari yang hujan, hari yang terik, hari yang tenang, hari yang penuh kupu-kupu atau wujud hari yang lain.

Memang kita tidak harus bersedih. Karena ini hanyalah hari yang selayaknya kita jalani dengan baik. Yang sedih akan terlupa. Yang bahagia akan berlalu. Semuanya bergantian, menyambut kita. Mesra.

Kita hanya perlu terjaga. Untuk melupakan atau mengingat sekadarnya.

Kenangan Mengaji Seorang Santri

Semakin bertambah tahun, semakin banyak paksaan, ”Ayo datang khotaman!” Alasannya, 5 kali khotaman saya tidak kelihatan. Saya berkelit, ”Solo-Kendal cukup jauh, tidak mudah mengantongi ijin dari rumah”. Biarpun sudah hampir 6 tahun terlewatkan, rasanya baru kemarin, ketika hiruk pikuk persiapan khotaman di depan mata. Sebagian besar santri disibukkan dengan semaan. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an semarak sekali, baik di pondok putra ataupun pondok putri.

Saya terlibat dan menyaksikan ritual itu sejak usia 11 sampai 17 tahun. Ritual sebagai peringatan pungkasan dari sedemikian panjang proses mengaji. Kenangan saat saya mengaji banyak. Tidak cukup semalaman untuk menceritakan. Jadi, anggap saja ini sebagai ringkasan.

Kali pertama saya mengaji, mungkin prosesnya biasa saja. Dimana santri mulai dibenahi makhorijul huruf dan tajwidnya. Masalah klasik bagi para pemula berupa makhorijul huruf dan tajwid yang masih belepotan. Susah membedakan kedalaman ha, kha, kho. Terbalik membunyikan sho, sin, syin. Masih kebingungan kapan dibaca jelas, berdengung atau memanjangkan beberapa alif. Biasanya guru kami melakukannya dengan menahan kami di surat Al-Fatihah sampai sekian lama, sampai sekiranya makhorijul huruf dan tajwid kami tidak terlalu berantakan. Baru bacaan kami melanjut ke surat An-Naas. Untuk tingkat Juz ’Amma, kami diwajibkan menghafal. Sedangkan tingkat Bin-Nadhor, kami cukup membaca Al-Qur’an dengan tartil. Namanya juga Bin-Nadhor, yang punya arti dengan melihat. Khusus untuk Bil-Ghoib, bagi beliau-beliau yang siap menjadi penghafal Al-Qur’an.

Ternyata, proses yang saya anggap biasa terasa ada yang istimewa ketika diberi amanah beberapa adik untuk mengaji di tingkat Juz ’Amma. Mungkin ibarat seorang perempuan yang merasa ibunya teramat sangat istimewa ketika dia mempunyai anak. Istimewa karena kesabaran diuji. Kesabaran menghadapi adik-adik dengan bawaan masing-masing. Semuanya beragam. Dari yang cukup memoles sedikit, sampai yang benar-benar harus ngoyo membenahi bacaannya. Dari yang cepat bisa sampai yang luar biasa susah untuk bisa. Dari yang nurut sampai yang ngeyel. Dari urusan ngaji sampai urusan masalah pribadi.

Saya yang saat itu masih menempuh pendidikan di SMA, tentu berbeda dengan mbak-mbak pengurus yang sudah kuliah. Selain usia yang masih muda dengan kondisi psikologis yang belum matang, kendala yang terasa adalah jadwal ngaji ba’da shubuh. Banyak adik-adik yang bangun kesiangan, yang membuat saya menunggu lebih lama, sehingga terkadang waktu ngaji mepet dengan waktu berangkat sekolah. Belum lagi saat guru ngaji Juz ’Amma banyak yang berhalangan. Jika sudah demikian, akan berbuntut keterlambatan saya ke sekolah, yang akan berurusan panjang dengan polisi sekolah. Ditilang! Malasnya....
Kedua teman saya yang bernasib sama, masih cukup mujur. Mereka di Madrasah Aliyah, yang tidak ada polisinya.
(pak Umam, piz.. hehe. Bagaimanapun juga, polisi sekolah seperti Pak Umam sangatlah penting, mengingat ada murid-murid semacam saya ini. Terimakasih atas disiplinnya yang bukan sekedar kata, pak..).

Akhirnya saya harus membangunkan mereka tiap shubuh, mendatangi satu persatu ke kamar masing-masing. Dan tentu saja saya sendiri harus sudah mandi sebelum shubuh, karena setelah selesai mengaji tidak ada waktu untuk mandi. Dengan demikian, keadaan membaik.

Ada lagi ketika absen mengaji saya yang sangat minimal dipertanyakan oleh wali kelas. Kadang Cuma seminggu sekali, paling banyak seminggu 6 kali. Padahal, waktu ngaji dalam seminggu ada 11 kali. Yah, gimana lagi? Niat ngaji tetap ada, tapi setiap sepulang bersama adik-adik, para guru Bin-Nadhor sudah pulang karena murid-muridnya selesai mengaji dan bubar. Alasan yang cukup bisa diterima, yang berakhir pemakluman.

Berganti perkara saat menjelang ujian akhir nasional. Standar kelulusan yang dinaikkan dari 3,01 di tahun sebelumnya menjadi 4,01 membuat jadwal di sekolah pagi semakin padat. Karena jam pelajaran dirasa kurang, merambahlah jadwal sampai malam, sampai jam 22.00. Waktu yang terlalu larut untuk berada di kelas.

Energi saya terkuras. Jadwal saya semakin tak waras. Masuk jam 06.30, pulang jam 13.30, masuk sekolah Diniyyah jam 14.00 sampai jam 16.30, ba’da magrib full, ba’da Isya masuk kelas lagi sampai jam 22.00, pulang dengan membawa PR, belum lagi menyiapkan waktu untuk menyimak secara khusus hafalan beberapa adik saya yang akan khotaman Juz ’Amma. Berakhir minimal jam sebelas malam. Esoknya, berlanjut ke ritual pagi dari sebelum shubuh.

Saya semakin jarang mengaji dan penyakit ngantuk saya semakin menjadi. Tidur di jam pelajaran Sejarah, yang saya pikir saya terlalu banyak dibohongi. Atau di jam pelajaran fisika, yang konsentrasi saya sudah tidak cukup untuk menghadapi rumus-rumusnya. Atau jam Bahasa Indonesia yang melulu dijejali pelajaran imbuhan dan sejenisinya, yang membuat saya bosan sebelum bisa. Cukup jam Kimia, Biologi dan Matematika membuat santai, saya tidak punya alasan untuk ngantuk. Apalagi guru-guru kami di bidang ini sering mengajak berTuhan secara sadar. Menyenangkan sekali pelajaran yang diawali dengan diajak bersyukur, di tengahnya diingatkan banyak hal, dan diakhiri dengan membahas ”Demi masa”.

Semakin terasa saja perjalanan guru ngaji saya, karena beliau juga mengajar saat masih SMA. Semuanya berjalan begitu saja atas pengaturanNya. Toh dulu saya berdoa, ”ya Allah, dimanapun saya berada, ijinkan saya untuk mengabdi”. Barangkali pengabdian itu ada di antara keseharian yang menurut saya tak waras, karena saya mengira tak cukup tenaga untuk menjalaninya. Atas izinNya, semua jadi bisa saja..

Kenangan lain yang membekas adalah beberapa teman sering mengirim ayat-ayat. Terkadang isyarat-isyarat dalam sobekan kertas.

”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan”.

”Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab yang mulia”.

”Itu adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Kata ”petunjuk” menarik saya semakin kuat ingin segera mengerti apa yang ada di Al-Qur’an. Sampai suatu saat saya di ingatkan “Janganlah kamu tergesa-gesa dalam membacanya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami untuk mengumpulkan di dadamu”.

Kemudian saya berdoa. Do’a yang tiap kali khotaman dilantunkan dengan indah
“nawwir yaa Rahman, nawwir quluubanaa bi nuuril Qur’an”



Menjelang khotaman- 18 Maret, 2010
Ayo sekolah nyang Madrasah Al-Qur’an, podho ngaji Qur’an ana Mangkuyudan
- Kiai Ahmad Umar -


*bongkar-bongkar tulisan tahun 2010, ditulis ketika saya benar-benar kangen dengan suasana pesantren. setelah dibaca kembali, rasanya lucu.hehe. 

Selamat Malam, Dik


Selamat malam, Dik. Enam belas tahun yang lalu, aku diminta ibu menungguimu, bahkan ketika kau terlelap. Malam baru sampai pada awalnya, tapi kau sudah kelelahan. Mungkin karena sedari siang kau melangkah terlampau banyak, tertawa terlalu keras dan berjingkrak teramat sering.

Malam itu, nyamuk tak berani mengganggu kita. Ibu sudah memasangkan kelambu. Suara kodok yang biasanya ribut selepas hujan deras, kini senyap. Aku merasakan malam itu singkat. Sesingkat jarak antara firasat dan kejadian sesungguhnya. Dan aku tak mau membuang waktu. Kupeluk kau erat-erat, kutatap lekat-lekat. Aku tahu ini kehilangan, tapi kehilangan apa? Bukankah kau bukan milikku?

Selamat malam, Dik. Sekarang dua puluh empat tahun usiaku. Tentang usiamu, entah. Aku tak lagi ingin menghitung. Bukan apa-apa. Sebatas mengusir pengandaianku, betapa saat ini dirimu sudah dewasa.

Selamat malam, Dik. Semoga mimpi indah. Kami disini percaya, Tuhan-lah pengasuh terbaik.



Semarang, Oktober 2011

Sabtu, 08 Juni 2013

Surat dari Bulan Juni

Semoga keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah terlimpah padamu.

Tiba-tiba saja, aku ingin mengucapkan salam padamu dengan bahasa yang kita mengerti. Menghayati dan mengaminka sebuah doa dengan sungguh.

Salam, doa keselamatan, memang sangat mesra jika kita ucapkan sejak awal bertemu. Apalagi yang diharapkan pertama kali selain keselamatan? Seperti yang kau tahu, dunia di luar sana tengah hiruk pikuk. Bertengkar atas segala sesuatu, berebut, bersitegang, bahkan saling menghantam. Yang mengaku pemimpin melupakan apa yang diamanahkan, yang mengaku rakyat lupa apa yang semsetinya dilakukan. Ada masanya kita menjadi sangat tidak mengerti atas segalanya. Maka doa keselamatan untukmu yang aku panjatkan. Agar kau tetap dijaga dari hingar bingar, yang akan mengeruhkan embun di jiwamu. Agar kau tetap selamat, dunia dan akhirat.

Di antara semua keributan itu, semoga kau tetap menjadi barisan dari mereka yang bertindak. Mengerjakan banyak hal yang membangun sambil terus menyusun cita-cita yang bertumbuh. Semakin waktu berjalan, semakin besar dan luas jangkauan cita-citamu. Apalagi yang diharapkan dari seseorang yang baik, jika tidak menggerakkan kebaikan bagi sekitarnya; bagi kita, bagi keluarga, bagi saudara dan bagi umat.

Mungkin akan melelahkan ketika dirimu kau kerahkan penuh. Tapi tidak perlu cemas, kita akan menyusun tempat-tempat untuk sekedar menghela nafas yang terengah atau merehatkan langkah yang jenuh. Mari bercerita tentang jalan-jalan yang sudah dilampaui, syukur yang semestinya dipanjatkan dan doa-doa sunyi yang kita simpan rapat sebelumnya. Atau percakapan ringan tentang bagaimana kau belajar naik sepeda semasa kecil sepertinya menyenangkan.

Kemudian kita akan melangkah kembali dengan semangat yang seakan tidak akan surut. Kita kalahkan pagi yang menggigil, kita jinakkan jalan-jalan berkerikil. Dan yang terpenting, kita taklukkan segala kemalasan dan alasan yang sempat mengerdilkan. Terdengar heroik dan menyenangkan, bukan?

Mari aku sambut tanganmu. Kita melangkah kembali.

Salam kangen dariku yang sering kau puisikan,
Bulan Juni

Kamis, 09 Mei 2013

Tentang Cinta

Pada suatu hari, Tuhan.. Tolong ijinkan kami bercerita tentang cinta. Walaupun kami sungguh tak banyak mengerti apa-apa.

Mungkin cinta ada pada ramahnya seorang sahabat, pemurahnya sepasang tangan dan hangatnya sebuah hati. Maka musim semi akan indah sekali. Bunga-bunga tak hanya bermekaran di taman, tapi juga di jantung kami, memenuhi segenap aliran darah kami. Bahkan mungkin udara yang kami hirup adalah bunga itu. Sehingga paru-paru kami sesak karena bahagia yang tak terperi.

Mungkin juga, cinta ada pada mata yang redup, hati yang resah dan langkah yang semakin gontai. Bukankah pada angin kemarau yang meniupkan ngilu juga mengantarkan cinta? Meluruhlah segenap embun dibawanya. Pohon-pohon yang tadinya rimbun menghijau, menyerahkan daun-daun di ranting yang lesu. Semuanya seperti akan padam, surut dan kusut. Sengat matahari, sungai mengering, tanah retak. Semua tetap lirih memanggilMu dengan suara yang tak pernah sampai kepada telinga.

Pada suatu hari, Tuhan.. ijinkan kami berkisah tentang cinta. Yang kami lihat, cinta adalah air yang tak lelah mengalir dari hulu ke hilir, menempuh perjalanannya ke angkasa, tersuruk-suruk di tetanah dan pepasir. Cinta juga musim. Bergilir dari dingin yang membuat kami menggigil, semi yang semarak, panas yang terik dan gugur yang meredup. Tapi sungguh, kami masih tak banyak mengerti apa-apa tentang cinta. Kami hanya mengerti bahwa jika lentera kami padam, Kau yang menyalakannya kembali.

Pada suatu hari ijinkan kami benar-benar mengerti.


Jalan*


Berjalan pada lintasan yang tak pernah besinggungan, bukan berarti tak pernah ada pertemuan. Tuhanlah yang membuatnya memulai, bertemu kemudian melangkah bersama.

Sulit dimengerti. Tapi inilah masa depan yang tidak bisa kita baca dari manapun. Bahkan dari jarak sedetik sebelumnya. Tuhan memang senantiasa memberikan kita bingkisan yang tertutup rapat, dalam penjagaan para malaikat yang senantiasa taat. Diliputi wewangian langit yang tidak pernah terendus siapapun. Nun jauh di sana, namun menyatu ketika saatnya tiba.

Jika suatu saat menemukan seseorangyang datang kemudian kau bersedia menyambut, mungkin itulah waktu bagimu untuk menempuhnya. Melangkah bersama, merasakan rasa saling, merangkai cita-cita dalam rumah yang teduh, membekali generasi baru dengan kehangatan kasih, menebar kebaikan bagi segala yang kalian temui nanti. Hari-hari itu akan sangat mendebarkan setiap detiknya, bagi hatimu yang telah lama mengimani janji Tuhan;“Bukankah kebiakan akan berbalas kebaikan?

Akan ada waktunya juga kalian harus berjalan menanjak, menghalau duri-duri tajam, atau membuktikan wujud cinta yang sesungguhnya; menyublim dalam ketiadaan. Kalau pun terengah-engah, kalian pasti tidak akan lelah. Air mata, keringat dan darah yang tercecer tidak akan pernahsia-sia. Masih ada tangan dan wajah yang terus menengadah, mengharap Cinta terindah.

Jalan itulah yang akan kau tempuh.Seseorang di persimpangan merengkuh dan menyalakan lampu-lampu yang akan terus menyala, ketika kau menyambutnya.


Semarang, 7 April2013


*sebuah kado pernikahan untuk saudara perempuan saya.

Minggu, 10 Februari 2013

Dari Fikih 'Bid'ah' ke 'Tamaddun'


Saat ini, kerap terlontar dengan begitu entengnya dari kelompok-kelompok Muslim tertentu berupa kata-kata "syirik", "kafir", atau "bid'ah". Kata-kata tersebut diayunkan kepada kelompok Muslim di luar mereka. Bahkan, hanya karena perbedaan furu'iyyah, bisa menyembur kata-kata tersebut.

Ini fakta yang sudah terjadi di daerah-daerah yang kerap menimbulkan ketegangan fisik. Ada keyakinan "laten" dan "manifes" yang dipegangi oleh mereka yang merasa paling benar. Padahal, bukankah menuduhkan kata-kata tersebut tidak segampang itu? Model sikap ini dikhawatirkan akan berpotensi pada bentuk radikalisme.

Kita hidup di negeri yang serbamulti. Di negeri Arab saja yang cenderung "monolitik", muncul beragam aliran keagamaan, bahkan aliran di luar bingkai keagamaan, seperti sosialisme dan Marxisme. Ada apa sebenarnya dan bagaimana membaca kenyataan tersebut?

Menakar fikih
Pengkajian kitab-kitab fikih selama ini tampaknya hanya mendaras kembali  kitab-kitab fikih klasik (al-fuqaha al-qudama). Artinya, di sini belum ada upaya untuk "membaca ulang" beberapa pandangan fikih terdahulu. Sebaliknya, hanya mereproduksi pandangan-pandangan fikih klasik dan tidak memproduksi pandangan-pandangan alternatif yang lebih mengacu pada upaya membangun peradaban (tamaddun).

Selama ini, telah muncul beberapa pakar dari Timur Tengah, seperti Ali Jum'ah dan Jamaluddin Athiyah, Jamal al-Banna, Yusuf al-Qaradhawi, atau juga Muhammad Syahrur. Mereka melihat betapa pentingnya membaca ulang fikih klasik secara kritis dengan arah memperbarui fikih dan ushul fikih guna merespons problem kekinian dan melahirkan fikih peradaban. Kecenderungan untuk memperbarui fikih terasa penting tatkala muncul kecenderungan pemahaman yang bersifat puritan dan radikal. Sejauh ini, banyak yang menjadikan fikih bukan sebagai metode (manhaj) untuk memahami doktrin keagamaan, melainkan sebagai dogma kaku.

Di negeri kita, kesadaran untuk memperluas cakupan fikih dengan menjadikan sebagai metodologi dalam merumuskan masalah kontemporer, alhamdulillah, sudah bermunculan. Misalnya saja, muncul buku-buku seperti "Fikih Jurnalistik", "Fikih Lintas Agama, dan juga "Fikih Perlindungan Konsumen" yang ditulis oleh Soffa Ihsan. Ini pertanda lahirnya kesadaran untuk tidak hanya mempersempit ruang fikih dengan hanya berputar-putar pada soal-soal ibadah, halal-haram, bid'ah-syirik, atau babagan jihad. Fikih menyimpan formulasi-formulasi ijtihadi yang masih berserakan dan bisa digali dalam rangka membaca kekinian. Dimensi keuniversalan dan kelenturan fikih jangan disembunyikan dan lalu yang mengedepankan sosok fikih sebagai "tatapan mata elang", penebar kebencian dan kecurigaan terhadap sesama, baik seagama maupun tidak seagama.

Kita jadi mafhum mengapa muncul beberapa istilah yang selalu dianggap musuh dalam fikih klasik, yaitu "syirik", "bid'ah", dan "kafir". Pertanyaannya, mengapa watak fikih klasik bisa seperti itu? Apakah Islam memang benar-benar sebagai agama yang menebarkan konflik dan kekerasan? Inilah apa yang disebut sebagai dilema paradigma fikih yang merupakan pemandangan menyejarah dan senantiasa menghiasi pemikiran keagamaan kontemporer. Banyaknya kaum terpelajar Muslim di Tanah Air yang belajar ke Timur Tengah setidaknya menyebabkan pandangan keagamaan mereka arabis dan teosentris.

Menurut Abid al-Jabiri, fikih yang dikonstruksi para ulama terdahulu tidak hanya menutup masa depan atau masa setelah fikih tersebut dikodifikasi, tetapi juga tidak mengakomodasi tradisi yang berkembang pada masa-masa sebelumnya (jabb al-islam ma qablahu). Hal itu terjadi karena fikih ibarat pendulum yang tidak secara tegas melakukan dialektika epistemologis. Fikih hanya dijadikan upaya untuk memapankan kepatuhan dan ketundukan terhadap sebuah aliran dan mazhab tertentu.

Memang fikih dan ushul fikih merupakan khazanah luar biasa kebanggaan Muslim. Dulu Amir al-Mahdi, gubernur di Asia Tengah, mengirim surat kepada Imam Syafi'i yang isinya tentang kebingungan Amir al-Mahdi saat membaca Alquran dan hadis yang isinya tampak bertentangan. Untuk menjawab ini, Imam Syafi'i menyusun kitab Al-Risalah yang berisi kaidah-kaidah ushul fikih yang kemudian lahir ilmu fikih. Dari sini, ada penjelasan  mengenai rukun shalat, yang kalau hanya membaca Alquran dan hadis, tidak akan ada penjelasannya secara perinci.

Di sisi lain, formalisasi fikih yang awalnya bersifat kultural ini, pada akhirnya dijadikan "bahan bakar" untuk cakar-cakaran karena perbedaan mazhab serta saling berebut pengaruh. Ini menunjukkan adanya "pendulum peradaban" sebagaimana disebut Ibnu Khaldun sebagai "tarik ulur" yang membawa peradaban dari kemegahannya menuju kehancuran.

Fikih menjadi jumud dan beku, atau yang paling ekstrem, fikih hanya dijadikan ajang kontestasi untuk saling menyalahkan sesama Muslim. Di sinilah perlunya mengembalikan fikih kepada semangatnya yang terbuka dan progresif sehingga fikih lebih fokus memotret isu-isu peradaban kemanusiaan dan hubungan antarmazhab secara lebih mendasar.
Budaya dan dogma
Kekuatan-kekuatan pengaruh budaya sejatinya sudah bisa kita saksikan hampir di belahan dunia mana pun. Demikian pula Islam sejak masa Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, sampai renaisans di Cordoba, Spanyol, telah mengembangkan suatu khazanah kebudayaan yang kaya dan beragam.

Refleksi sejarah Islam sebagai kekuatan budaya ini telah memunculkan-menyitir istilah dari Gustav Von Grunebaum-sebagai "kesatuan dan keberagaman (unity and variety). Kekuatan budaya Islam telah melakukan suatu "sintesa" yang kaya dan adaptif dengan unit-unit kebudayaan lokal, di mana Islam dapat merambah masuk. Kekuatan-kekuatan keragaman Islam yang berpengaruh sampai pada tingkat pengambilan keputusan fikih, ikut dipertimbangkan dalam suatu tradisi yang berlaku pada saat itu.

Dalam taksonomi ajaran Islam sendiri, kita perlu melihat ada yang disebut dengan bayan ilahi. Istilah ini mengacu pada wujud ajaran Islam yang sifatnya dogmatik. Ini biasa diistilahkan ma'lumun min al-dini bi al-dharurah (ajaran Islam yang sudah "given"). Kemudian, ada yang disebut bayan al-nabawi. Ini mengandung pengertian sebagai petunjuk yang diberikan oleh Nabi Muhammad, baik dalam ucapan, sikap, maupun perilaku Nabi. Bentuk ini juga merupakan ajaran yang sifatnya dogmatik. Dan juga, apa yang kita sebut dengan bayan 'aqli. Artinya, mengacu pada cara olah pikir atau ijtihad yang dilakukan oleh umat. Misalnya, yang secara individual merujuk pada bentuk qiyas, sedangkan yang kolektif disebut ijma'.

Nah, ini semua sesungguhnya merupakan pijakan inovasi dan kreasi dalam rangka melahirkan peradaban berdasar cahaya keislaman yang bisa memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Tanpa ikhtiar ini, ajaran Islam akan ditafsirkan secara stagnan (mauquf) sehingga berpunggungan dengan cita membangun peradaban yang elok.

Dari uraian ini pula, dituangkan pengertian bahwa "tafaqquh fi al-din" berarti kaum Muslimin diperintahkan untuk terus berinovasi dan berkreasi demi membangun peradaban kini dan esok secara terus-menerus. Makna "mendalami agama" tidak mesti ditafsir secara sempit karena pengertiannya luas yang intinya tidak hanya berputar-putar pada masalah furu'iyyah-ubudiyah, tetapi menjelma sebagai "fikih tamaddun" dalam rangka membangun peradaban adiluhung yang dipenuhi kearifan dalam menyikapi perbedaan apa pun.

KH Said Aqiel Siradj, Ketua Umum PBNU

Rabu, 30 Januari 2013

Roti Sisir

Entah sejak kapan, aku mempunyai kebiasaan mengunyah roti sisir jika merindukanmu. Bisa jadi karena dulu kau sering menikmati senja dengan roti sisir dan segelas kopi pekat tanpa merk. Benar-benar kopi yang wangi dan pekatnya sangat kopi, bukan seperti kopi dengan bermacam-macam judul tapi pudar. Tentu saja aku tidak minum kopi itu. Tapi aku turut mengunyah roti sisir yang manis dan gurih. Semanis dirimu dan segurih cerita yang kau kisahkan.

Sore ini pun aku mengunyah roti sisir, karena tiba-tiba merindukanmu. Kau tahu? Aku sudah 25 tahun. Bukan lagi bocah berkepang dua yang berkeliaran di kebun, sawah dan sungai. Tapi berlalunya waktu tidak juga mengusir kangen yang bisa sewaktu-waktu menghampiri. Kau sendiri telah lama pergi, entah ke tempat seperti apa. Aku hanya bisa memohon kepada Tuhan, bahwa tempatmu saat ini menyenangkan dan kau bahagia di sana.

Sore ini, entah mengapa roti sisir yang aku kunyah ini hilang gurih dan manisnya. Seperti busa untuk cuci piring. Semakin dikunyah, semakin yakin tidak ada rasa. Hambar. Yang lebih penting, aku bisa bernostalgia denganmu senja ini, meskipun tanpa kehadiran sebenarnya.

Kemudian sebuah doa kubungkus rapi. Kutuliskan namamu di sampulnya. Juga sebuah kalimat penutup singkat, tapi dengan menuliskannya saja sudah cukup untuk membuat genangan air di mata.
; salam kangen selalu, dari cucumu (dan ada tanda kecup di sana).