Rabu, 30 Januari 2013

Roti Sisir

Entah sejak kapan, aku mempunyai kebiasaan mengunyah roti sisir jika merindukanmu. Bisa jadi karena dulu kau sering menikmati senja dengan roti sisir dan segelas kopi pekat tanpa merk. Benar-benar kopi yang wangi dan pekatnya sangat kopi, bukan seperti kopi dengan bermacam-macam judul tapi pudar. Tentu saja aku tidak minum kopi itu. Tapi aku turut mengunyah roti sisir yang manis dan gurih. Semanis dirimu dan segurih cerita yang kau kisahkan.

Sore ini pun aku mengunyah roti sisir, karena tiba-tiba merindukanmu. Kau tahu? Aku sudah 25 tahun. Bukan lagi bocah berkepang dua yang berkeliaran di kebun, sawah dan sungai. Tapi berlalunya waktu tidak juga mengusir kangen yang bisa sewaktu-waktu menghampiri. Kau sendiri telah lama pergi, entah ke tempat seperti apa. Aku hanya bisa memohon kepada Tuhan, bahwa tempatmu saat ini menyenangkan dan kau bahagia di sana.

Sore ini, entah mengapa roti sisir yang aku kunyah ini hilang gurih dan manisnya. Seperti busa untuk cuci piring. Semakin dikunyah, semakin yakin tidak ada rasa. Hambar. Yang lebih penting, aku bisa bernostalgia denganmu senja ini, meskipun tanpa kehadiran sebenarnya.

Kemudian sebuah doa kubungkus rapi. Kutuliskan namamu di sampulnya. Juga sebuah kalimat penutup singkat, tapi dengan menuliskannya saja sudah cukup untuk membuat genangan air di mata.
; salam kangen selalu, dari cucumu (dan ada tanda kecup di sana).

Rabu, 24 Oktober 2012

Menerawang

Malam ini saya melakukan yang saya inginkan, bukan yang harus saya lakukan. Walaupun hanya seputar hal-hal membosankan menurut orang lain.
Sekeras apapun saya berusaha meyakinkan orang lain untuk mengerti apa yang saya suka, mungkin akan percuma saja. Saya masih saja merasa senang ketika menikmati lagu-lagu lama, musikalisasi puisi (yang kebanyakan orang akan berkomentar bahwa yang saya dengarkan teramat aneh) dan menulis apa saja (kecuali menulis tesis dan riview article. Saya sedang malas berfikir :D )

Inilah yang ingin saya tuliskan;

Rasanya ingin menjadi selembar daun, melayang dan jatuh, tanpa berfikir mengapa saya harus terbawa dan terhempas. Angin yang tak pernah berkata apa-apa, cuaca yang berlalu begitu saja dan pergantian siang malam yang datar. Saya akan terombang-ambing entah seperti apa. Mungkin seperti pengembara yang terjebak di tengah gurun yang luas. Tapi saya tidak akan tersesat. Pasti tidak akan tersesat. Karena saya pergi bersama angin yang mengantarkan pesan dari Tuhan, menuruni lembah, mengitari lautan, menempuh daratan. Kebingungan yang saya risaukan akan terhempas oleh suara petir, ketika dua awan berjodoh untuk bertabrakan. Perasaan terombang-ambing akan lenyap dan tidak akan kembali hinggap.  

Kemudian ketika jatuh, saya menjadi hadiah bagi tanah yang selalu bersabar atas apa saja yang menimpanya. Ribuan tahun dia tertimpa hujan, tersengat terik, diludahi, menjadi tempat pembuangan, sampai menjadi penampung kotoran manusia. Saya akan berbahagia menjadi hadiah bagi bumi yang setulus itu. Bahkan dia telah menjernihkan air yang keruh, mengurai banyak hal yang menjijikkan dan menumbuhkan biji yang terbuang, atas sekehendak Tuhan.

Di kemudian hari nanti, wujud saya yang sudah lenyap dan menjadi bagian penting dari tanah, akan mengasuh sebentuk biji yang berkecambah. Membiarkannya tumbuh dengan pengharapan, dalam asuhan cahaya. 

Dan akhir ceritanya, saya tidak lagi tahu menjadi apa. Saya menelusup dalam segenap sel tetumbuhan, hewan dan manusia. Entah disebut apa. Barangkali tanpa nama saja.




Jumat, 12 Oktober 2012

Selamat Siang, Jumat

Selamat siang, Jumat.. Selamat bekerja.

Kau tentu tahu, merawat mereka bertumbuh dalam pengetahuan sungguh mendebarkan. Kita tidak hanya memberikan beberapa suap berita untuk mereka, tapi juga doa dan pengharapan bahwa di masa depan nanti, mereka akan menjadi seseorang yang tinggi pekertinya, rendah hati dan mengagumkan cara berfikirnya.

Selamat siang, Jumat.. Selamat belajar.

Akan kita tempuh segenap perjalanan menuju ilmu pengetahuan, berharap semakin teguh bahwa Tuhan sebaik-sebaik pujaan. Juga semakin yakin bahwa tidak ada yang terjadi di semesta dengan kebetulan. Semua aturan sudah sedemikian rapi. Bahkan sampai seberapa banyak sel yang akan mati hari ini.

Selamat siang, Jumat..
Hari ini mengagumkan, bukan? Maka akan kita sampaikan lagi segenap pujian pada Tuhan dan shalawat bagi Rasul Muhammad.
Tanpa bosan.

Kamis, 04 Oktober 2012

Selamat Pagi, Jumat

Selamat pagi, Jumat..
setelah malammu yang terguyur hujan, berjuta tunas bersiap tumbuh. Mereka akn meretas jalan yang saling berpilin, mungkin. Terkait satu sama lain, terhubung.

Dan hatiku juga basah, Jumat. Sempat mengeluh, tapi kemudian menyesal sangat. Pada Tuhan pun, sungguh kita tak pantas mengeluh, bukan? Karena dunia ini bukan hanya sebagai tempat sebab akibat. Ada sesuatu yang mutlak, tak bisa di tolak. Sekeras apapun kita berupaya. Mengeluhkannya, sama artinya mengeluh akan ketentuan Tuhan.

Maka,mari nyalakan lentera itu, Jumat.. Agar kita tak lagi gelap.

Jumat, 07 September 2012

Menemukan Jalan

Nasib adalah kesunyian bagi masing-masing. Ada rute-rute khusus yang harus dilalui. Dan jalan kita, pastilah berbeda. entah itu jenis perjalanannya, likunya, letihnya, luka-lukanya dan bahagianya.

Aku mungkin akan merasa cukup untuk berbahagia dengan menjalani takdir. Sungguh, pena-pena telah diangkat dan tinta telah mengering. Tidak ada yang perlu membuat kita begitu membenci hidup, walaupun terkadang aku sendiri membutuhkan ruang tersembunyi untuk menangis. Rasa-rasanya akan melegakan.

Karena inilah kita, makhluk kecil yang dijanjikan untuk berusaha. Hasil pun penting, tapi bukan menjadi sesuatu yang membuatmu enggan untuk melangkah.

Bagaimana dengan jalanmu? Apakah kau masih bersabar jika suatu saat menjadi terjal? Apakah kau masih setia pada kebaikan yang diajarkan Baginda Rasul (semoga sholawat dan salam terlimpah atasnya, keluarganya dan pengikutnya)?

Apapun itu, semoga kita segera mendapatkan kepulihan setelah sakit yang berkepanjangan.
Di jalan itu, semoga kita punya seribu hati yang menyala.

Senin, 13 Agustus 2012

Pulang Kampung

Selamat berlibur. Selamat menemui orang-orang tercinta yang selama ini sangat ingin kita temui. Selamat merayakan rindu. Semoga banyak keberkahan terlimpah di dalamnya.

Keberkahan yang bermula dari relanya orang tua kita, saudara-saudara dan sanak kerabat yang lain.

Kita yang percaya bahwa segala kebaikan akan ada muaranya, tapi tidak pernah lelah berputar memenuhi suatu siklus, seperti air. Maka, ada berapa banyak yang akan turut dalam sebuah siklus jalinan kasih sayang.

Selamat merayakan cinta. Semoga kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik.

Dan sekarang, saatnya pulang kampung.

Kamis, 02 Agustus 2012

Menunggu Kepulangan

Mendoakan siapa saja yang tengah menempuh perjalanan menuju rumah yang sangat dirindukan. Semoga selalu dalam keselamatan dan tertunaikan apa yang tengah membuncah di dalam hati.

Yang tadinya saling membaca jarak, semoga menjadi dekat tanpa jarak. Yang tadinya merasa tak terlalu peduli atas keberadaannya, semoga mengerti bahwa ketika jauh ada rindu yang diam-diam menggumpal semakin besar. Kemudian sadar, bahwa setiap kehadiran tidak tergantikan.

Dan untuk kau, yang tengah menanti detik-detik perjalanan itu, seribu doa bersamamu.