Semakin bertambah tahun, semakin banyak paksaan, ”Ayo datang
khotaman!” Alasannya, 5 kali khotaman saya tidak kelihatan. Saya
berkelit, ”Solo-Kendal cukup jauh, tidak mudah mengantongi ijin dari
rumah”. Biarpun sudah hampir 6 tahun terlewatkan, rasanya baru kemarin,
ketika hiruk pikuk persiapan khotaman di depan mata. Sebagian besar
santri disibukkan dengan semaan. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an semarak
sekali, baik di pondok putra ataupun pondok putri.
Saya terlibat
dan menyaksikan ritual itu sejak usia 11 sampai 17 tahun. Ritual
sebagai peringatan pungkasan dari sedemikian panjang proses mengaji.
Kenangan saat saya mengaji banyak. Tidak cukup semalaman untuk
menceritakan. Jadi, anggap saja ini sebagai ringkasan.
Kali
pertama saya mengaji, mungkin prosesnya biasa saja. Dimana santri mulai
dibenahi makhorijul huruf dan tajwidnya. Masalah klasik bagi para pemula
berupa makhorijul huruf dan tajwid yang masih belepotan. Susah
membedakan kedalaman ha, kha, kho. Terbalik membunyikan sho, sin, syin.
Masih kebingungan kapan dibaca jelas, berdengung atau memanjangkan
beberapa alif. Biasanya guru kami melakukannya dengan menahan kami di
surat Al-Fatihah sampai sekian lama, sampai sekiranya makhorijul huruf
dan tajwid kami tidak terlalu berantakan. Baru bacaan kami melanjut ke
surat An-Naas. Untuk tingkat Juz ’Amma, kami diwajibkan menghafal.
Sedangkan tingkat Bin-Nadhor, kami cukup membaca Al-Qur’an dengan
tartil. Namanya juga Bin-Nadhor, yang punya arti dengan melihat. Khusus
untuk Bil-Ghoib, bagi beliau-beliau yang siap menjadi penghafal
Al-Qur’an.
Ternyata, proses yang saya anggap biasa terasa ada
yang istimewa ketika diberi amanah beberapa adik untuk mengaji di
tingkat Juz ’Amma. Mungkin ibarat seorang perempuan yang merasa ibunya
teramat sangat istimewa ketika dia mempunyai anak. Istimewa karena
kesabaran diuji. Kesabaran menghadapi adik-adik dengan bawaan
masing-masing. Semuanya beragam. Dari yang cukup memoles sedikit, sampai
yang benar-benar harus ngoyo membenahi bacaannya. Dari yang cepat bisa
sampai yang luar biasa susah untuk bisa. Dari yang nurut sampai yang
ngeyel. Dari urusan ngaji sampai urusan masalah pribadi.
Saya
yang saat itu masih menempuh pendidikan di SMA, tentu berbeda dengan
mbak-mbak pengurus yang sudah kuliah. Selain usia yang masih muda dengan
kondisi psikologis yang belum matang, kendala yang terasa adalah jadwal
ngaji ba’da shubuh. Banyak adik-adik yang bangun kesiangan, yang
membuat saya menunggu lebih lama, sehingga terkadang waktu ngaji mepet
dengan waktu berangkat sekolah. Belum lagi saat guru ngaji Juz ’Amma
banyak yang berhalangan. Jika sudah demikian, akan berbuntut
keterlambatan saya ke sekolah, yang akan berurusan panjang dengan polisi
sekolah. Ditilang! Malasnya....
Kedua teman saya yang bernasib sama, masih cukup mujur. Mereka di Madrasah Aliyah, yang tidak ada polisinya.
(pak
Umam, piz.. hehe. Bagaimanapun juga, polisi sekolah seperti Pak Umam
sangatlah penting, mengingat ada murid-murid semacam saya ini.
Terimakasih atas disiplinnya yang bukan sekedar kata, pak..).
Akhirnya
saya harus membangunkan mereka tiap shubuh, mendatangi satu persatu ke
kamar masing-masing. Dan tentu saja saya sendiri harus sudah mandi
sebelum shubuh, karena setelah selesai mengaji tidak ada waktu untuk
mandi. Dengan demikian, keadaan membaik.
Ada lagi ketika absen
mengaji saya yang sangat minimal dipertanyakan oleh wali kelas. Kadang
Cuma seminggu sekali, paling banyak seminggu 6 kali. Padahal, waktu
ngaji dalam seminggu ada 11 kali. Yah, gimana lagi? Niat ngaji tetap
ada, tapi setiap sepulang bersama adik-adik, para guru Bin-Nadhor sudah
pulang karena murid-muridnya selesai mengaji dan bubar. Alasan yang
cukup bisa diterima, yang berakhir pemakluman.
Berganti perkara
saat menjelang ujian akhir nasional. Standar kelulusan yang dinaikkan
dari 3,01 di tahun sebelumnya menjadi 4,01 membuat jadwal di sekolah
pagi semakin padat. Karena jam pelajaran dirasa kurang, merambahlah
jadwal sampai malam, sampai jam 22.00. Waktu yang terlalu larut untuk
berada di kelas.
Energi saya terkuras. Jadwal saya semakin tak
waras. Masuk jam 06.30, pulang jam 13.30, masuk sekolah Diniyyah jam
14.00 sampai jam 16.30, ba’da magrib full, ba’da Isya masuk kelas lagi
sampai jam 22.00, pulang dengan membawa PR, belum lagi menyiapkan waktu
untuk menyimak secara khusus hafalan beberapa adik saya yang akan
khotaman Juz ’Amma. Berakhir minimal jam sebelas malam. Esoknya,
berlanjut ke ritual pagi dari sebelum shubuh.
Saya semakin
jarang mengaji dan penyakit ngantuk saya semakin menjadi. Tidur di jam
pelajaran Sejarah, yang saya pikir saya terlalu banyak dibohongi. Atau
di jam pelajaran fisika, yang konsentrasi saya sudah tidak cukup untuk
menghadapi rumus-rumusnya. Atau jam Bahasa Indonesia yang melulu
dijejali pelajaran imbuhan dan sejenisinya, yang membuat saya bosan
sebelum bisa. Cukup jam Kimia, Biologi dan Matematika membuat santai,
saya tidak punya alasan untuk ngantuk. Apalagi guru-guru kami di bidang
ini sering mengajak berTuhan secara sadar. Menyenangkan sekali pelajaran
yang diawali dengan diajak bersyukur, di tengahnya diingatkan banyak
hal, dan diakhiri dengan membahas ”Demi masa”.
Semakin terasa
saja perjalanan guru ngaji saya, karena beliau juga mengajar saat masih
SMA. Semuanya berjalan begitu saja atas pengaturanNya. Toh dulu saya
berdoa, ”ya Allah, dimanapun saya berada, ijinkan saya untuk mengabdi”.
Barangkali pengabdian itu ada di antara keseharian yang menurut saya tak
waras, karena saya mengira tak cukup tenaga untuk menjalaninya. Atas
izinNya, semua jadi bisa saja..
Kenangan lain yang membekas adalah beberapa teman sering mengirim ayat-ayat. Terkadang isyarat-isyarat dalam sobekan kertas.
”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan”.
”Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab yang mulia”.
”Itu adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Kata
”petunjuk” menarik saya semakin kuat ingin segera mengerti apa yang ada
di Al-Qur’an. Sampai suatu saat saya di ingatkan “Janganlah kamu
tergesa-gesa dalam membacanya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami untuk
mengumpulkan di dadamu”.
Kemudian saya berdoa. Do’a yang tiap kali khotaman dilantunkan dengan indah
“nawwir yaa Rahman, nawwir quluubanaa bi nuuril Qur’an”
Menjelang khotaman- 18 Maret, 2010
Ayo sekolah nyang Madrasah Al-Qur’an, podho ngaji Qur’an ana Mangkuyudan
- Kiai Ahmad Umar -
*bongkar-bongkar tulisan tahun 2010, ditulis ketika saya benar-benar kangen dengan suasana pesantren. setelah dibaca kembali, rasanya lucu.hehe.
Jumat, 28 Juni 2013
Selamat Malam, Dik
Selamat malam, Dik. Enam belas tahun yang lalu, aku diminta ibu
menungguimu, bahkan ketika kau terlelap. Malam baru sampai pada awalnya, tapi
kau sudah kelelahan. Mungkin karena sedari siang kau melangkah terlampau
banyak, tertawa terlalu keras dan berjingkrak teramat sering.
Malam itu, nyamuk tak berani mengganggu kita. Ibu sudah memasangkan
kelambu. Suara kodok yang biasanya ribut selepas hujan deras, kini senyap. Aku
merasakan malam itu singkat. Sesingkat jarak antara firasat dan kejadian
sesungguhnya. Dan aku tak mau membuang waktu. Kupeluk kau erat-erat, kutatap
lekat-lekat. Aku tahu ini
kehilangan, tapi kehilangan apa? Bukankah kau bukan milikku?
Selamat malam, Dik. Sekarang dua puluh empat tahun usiaku. Tentang usiamu, entah. Aku tak
lagi ingin menghitung. Bukan apa-apa. Sebatas mengusir pengandaianku, betapa
saat ini dirimu sudah dewasa.
Selamat malam, Dik. Semoga mimpi indah. Kami disini percaya, Tuhan-lah
pengasuh terbaik.
Semarang, Oktober 2011
Sabtu, 08 Juni 2013
Surat dari Bulan Juni
Semoga keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah terlimpah padamu.
Tiba-tiba saja, aku ingin mengucapkan salam padamu dengan bahasa yang kita mengerti. Menghayati dan mengaminka sebuah doa dengan sungguh.
Salam, doa keselamatan, memang sangat mesra jika kita ucapkan sejak awal bertemu. Apalagi yang diharapkan pertama kali selain keselamatan? Seperti yang kau tahu, dunia di luar sana tengah hiruk pikuk. Bertengkar atas segala sesuatu, berebut, bersitegang, bahkan saling menghantam. Yang mengaku pemimpin melupakan apa yang diamanahkan, yang mengaku rakyat lupa apa yang semsetinya dilakukan. Ada masanya kita menjadi sangat tidak mengerti atas segalanya. Maka doa keselamatan untukmu yang aku panjatkan. Agar kau tetap dijaga dari hingar bingar, yang akan mengeruhkan embun di jiwamu. Agar kau tetap selamat, dunia dan akhirat.
Di antara semua keributan itu, semoga kau tetap menjadi barisan dari mereka yang bertindak. Mengerjakan banyak hal yang membangun sambil terus menyusun cita-cita yang bertumbuh. Semakin waktu berjalan, semakin besar dan luas jangkauan cita-citamu. Apalagi yang diharapkan dari seseorang yang baik, jika tidak menggerakkan kebaikan bagi sekitarnya; bagi kita, bagi keluarga, bagi saudara dan bagi umat.
Mungkin akan melelahkan ketika dirimu kau kerahkan penuh. Tapi tidak perlu cemas, kita akan menyusun tempat-tempat untuk sekedar menghela nafas yang terengah atau merehatkan langkah yang jenuh. Mari bercerita tentang jalan-jalan yang sudah dilampaui, syukur yang semestinya dipanjatkan dan doa-doa sunyi yang kita simpan rapat sebelumnya. Atau percakapan ringan tentang bagaimana kau belajar naik sepeda semasa kecil sepertinya menyenangkan.
Kemudian kita akan melangkah kembali dengan semangat yang seakan tidak akan surut. Kita kalahkan pagi yang menggigil, kita jinakkan jalan-jalan berkerikil. Dan yang terpenting, kita taklukkan segala kemalasan dan alasan yang sempat mengerdilkan. Terdengar heroik dan menyenangkan, bukan?
Mari aku sambut tanganmu. Kita melangkah kembali.
Salam kangen dariku yang sering kau puisikan,
Bulan Juni
Tiba-tiba saja, aku ingin mengucapkan salam padamu dengan bahasa yang kita mengerti. Menghayati dan mengaminka sebuah doa dengan sungguh.
Salam, doa keselamatan, memang sangat mesra jika kita ucapkan sejak awal bertemu. Apalagi yang diharapkan pertama kali selain keselamatan? Seperti yang kau tahu, dunia di luar sana tengah hiruk pikuk. Bertengkar atas segala sesuatu, berebut, bersitegang, bahkan saling menghantam. Yang mengaku pemimpin melupakan apa yang diamanahkan, yang mengaku rakyat lupa apa yang semsetinya dilakukan. Ada masanya kita menjadi sangat tidak mengerti atas segalanya. Maka doa keselamatan untukmu yang aku panjatkan. Agar kau tetap dijaga dari hingar bingar, yang akan mengeruhkan embun di jiwamu. Agar kau tetap selamat, dunia dan akhirat.
Di antara semua keributan itu, semoga kau tetap menjadi barisan dari mereka yang bertindak. Mengerjakan banyak hal yang membangun sambil terus menyusun cita-cita yang bertumbuh. Semakin waktu berjalan, semakin besar dan luas jangkauan cita-citamu. Apalagi yang diharapkan dari seseorang yang baik, jika tidak menggerakkan kebaikan bagi sekitarnya; bagi kita, bagi keluarga, bagi saudara dan bagi umat.
Mungkin akan melelahkan ketika dirimu kau kerahkan penuh. Tapi tidak perlu cemas, kita akan menyusun tempat-tempat untuk sekedar menghela nafas yang terengah atau merehatkan langkah yang jenuh. Mari bercerita tentang jalan-jalan yang sudah dilampaui, syukur yang semestinya dipanjatkan dan doa-doa sunyi yang kita simpan rapat sebelumnya. Atau percakapan ringan tentang bagaimana kau belajar naik sepeda semasa kecil sepertinya menyenangkan.
Kemudian kita akan melangkah kembali dengan semangat yang seakan tidak akan surut. Kita kalahkan pagi yang menggigil, kita jinakkan jalan-jalan berkerikil. Dan yang terpenting, kita taklukkan segala kemalasan dan alasan yang sempat mengerdilkan. Terdengar heroik dan menyenangkan, bukan?
Mari aku sambut tanganmu. Kita melangkah kembali.
Salam kangen dariku yang sering kau puisikan,
Bulan Juni
Kamis, 09 Mei 2013
Tentang Cinta
Pada suatu hari, Tuhan.. Tolong ijinkan kami bercerita tentang cinta. Walaupun kami sungguh tak banyak mengerti apa-apa.
Mungkin cinta ada pada ramahnya seorang sahabat, pemurahnya sepasang tangan dan hangatnya sebuah hati. Maka musim semi akan indah sekali. Bunga-bunga tak hanya bermekaran di taman, tapi juga di jantung kami, memenuhi segenap aliran darah kami. Bahkan mungkin udara yang kami hirup adalah bunga itu. Sehingga paru-paru kami sesak karena bahagia yang tak terperi.
Mungkin juga, cinta ada pada mata yang redup, hati yang resah dan langkah yang semakin gontai. Bukankah pada angin kemarau yang meniupkan ngilu juga mengantarkan cinta? Meluruhlah segenap embun dibawanya. Pohon-pohon yang tadinya rimbun menghijau, menyerahkan daun-daun di ranting yang lesu. Semuanya seperti akan padam, surut dan kusut. Sengat matahari, sungai mengering, tanah retak. Semua tetap lirih memanggilMu dengan suara yang tak pernah sampai kepada telinga.
Pada suatu hari, Tuhan.. ijinkan kami berkisah tentang cinta. Yang kami lihat, cinta adalah air yang tak lelah mengalir dari hulu ke hilir, menempuh perjalanannya ke angkasa, tersuruk-suruk di tetanah dan pepasir. Cinta juga musim. Bergilir dari dingin yang membuat kami menggigil, semi yang semarak, panas yang terik dan gugur yang meredup. Tapi sungguh, kami masih tak banyak mengerti apa-apa tentang cinta. Kami hanya mengerti bahwa jika lentera kami padam, Kau yang menyalakannya kembali.
Pada suatu hari ijinkan kami benar-benar mengerti.
Mungkin cinta ada pada ramahnya seorang sahabat, pemurahnya sepasang tangan dan hangatnya sebuah hati. Maka musim semi akan indah sekali. Bunga-bunga tak hanya bermekaran di taman, tapi juga di jantung kami, memenuhi segenap aliran darah kami. Bahkan mungkin udara yang kami hirup adalah bunga itu. Sehingga paru-paru kami sesak karena bahagia yang tak terperi.
Mungkin juga, cinta ada pada mata yang redup, hati yang resah dan langkah yang semakin gontai. Bukankah pada angin kemarau yang meniupkan ngilu juga mengantarkan cinta? Meluruhlah segenap embun dibawanya. Pohon-pohon yang tadinya rimbun menghijau, menyerahkan daun-daun di ranting yang lesu. Semuanya seperti akan padam, surut dan kusut. Sengat matahari, sungai mengering, tanah retak. Semua tetap lirih memanggilMu dengan suara yang tak pernah sampai kepada telinga.
Pada suatu hari, Tuhan.. ijinkan kami berkisah tentang cinta. Yang kami lihat, cinta adalah air yang tak lelah mengalir dari hulu ke hilir, menempuh perjalanannya ke angkasa, tersuruk-suruk di tetanah dan pepasir. Cinta juga musim. Bergilir dari dingin yang membuat kami menggigil, semi yang semarak, panas yang terik dan gugur yang meredup. Tapi sungguh, kami masih tak banyak mengerti apa-apa tentang cinta. Kami hanya mengerti bahwa jika lentera kami padam, Kau yang menyalakannya kembali.
Pada suatu hari ijinkan kami benar-benar mengerti.
Jalan*
Berjalan pada lintasan yang tak pernah besinggungan, bukan berarti tak pernah ada pertemuan. Tuhanlah yang membuatnya memulai, bertemu kemudian melangkah bersama.
Sulit dimengerti. Tapi inilah masa depan yang tidak bisa kita baca dari manapun. Bahkan dari jarak sedetik sebelumnya. Tuhan memang senantiasa memberikan kita bingkisan yang tertutup rapat, dalam penjagaan para malaikat yang senantiasa taat. Diliputi wewangian langit yang tidak pernah terendus siapapun. Nun jauh di sana, namun menyatu ketika saatnya tiba.
Jika suatu saat menemukan seseorangyang datang kemudian kau bersedia menyambut, mungkin itulah waktu bagimu untuk menempuhnya. Melangkah bersama, merasakan rasa saling, merangkai cita-cita dalam rumah yang teduh, membekali generasi baru dengan kehangatan kasih, menebar kebaikan bagi segala yang kalian temui nanti. Hari-hari itu akan sangat mendebarkan setiap detiknya, bagi hatimu yang telah lama mengimani janji Tuhan;“Bukankah kebiakan akan berbalas kebaikan?”
Akan ada waktunya juga kalian harus berjalan menanjak, menghalau duri-duri tajam, atau membuktikan wujud cinta yang sesungguhnya; menyublim dalam ketiadaan. Kalau pun terengah-engah, kalian pasti tidak akan lelah. Air mata, keringat dan darah yang tercecer tidak akan pernahsia-sia. Masih ada tangan dan wajah yang terus menengadah, mengharap Cinta terindah.
Jalan itulah yang akan kau tempuh.Seseorang di persimpangan merengkuh dan menyalakan lampu-lampu yang akan terus menyala, ketika kau menyambutnya.
Semarang, 7 April2013
*sebuah kado pernikahan untuk saudara perempuan saya.
Minggu, 10 Februari 2013
Dari Fikih 'Bid'ah' ke 'Tamaddun'
Saat ini, kerap
terlontar dengan begitu entengnya dari kelompok-kelompok Muslim
tertentu berupa kata-kata "syirik", "kafir", atau "bid'ah". Kata-kata
tersebut diayunkan kepada kelompok Muslim di luar mereka. Bahkan, hanya
karena perbedaan furu'iyyah, bisa menyembur kata-kata tersebut.
Ini fakta yang sudah terjadi di daerah-daerah yang kerap menimbulkan ketegangan fisik. Ada keyakinan "laten" dan "manifes" yang dipegangi oleh mereka yang merasa paling benar. Padahal, bukankah menuduhkan kata-kata tersebut tidak segampang itu? Model sikap ini dikhawatirkan akan berpotensi pada bentuk radikalisme.
Kita hidup di negeri yang serbamulti. Di negeri Arab saja yang cenderung "monolitik", muncul beragam aliran keagamaan, bahkan aliran di luar bingkai keagamaan, seperti sosialisme dan Marxisme. Ada apa sebenarnya dan bagaimana membaca kenyataan tersebut?
Menakar fikih
Pengkajian kitab-kitab fikih selama ini tampaknya hanya mendaras kembali kitab-kitab fikih klasik (al-fuqaha al-qudama). Artinya, di sini belum ada upaya untuk "membaca ulang" beberapa pandangan fikih terdahulu. Sebaliknya, hanya mereproduksi pandangan-pandangan fikih klasik dan tidak memproduksi pandangan-pandangan alternatif yang lebih mengacu pada upaya membangun peradaban (tamaddun).
Selama ini, telah muncul beberapa pakar dari Timur Tengah, seperti Ali Jum'ah dan Jamaluddin Athiyah, Jamal al-Banna, Yusuf al-Qaradhawi, atau juga Muhammad Syahrur. Mereka melihat betapa pentingnya membaca ulang fikih klasik secara kritis dengan arah memperbarui fikih dan ushul fikih guna merespons problem kekinian dan melahirkan fikih peradaban. Kecenderungan untuk memperbarui fikih terasa penting tatkala muncul kecenderungan pemahaman yang bersifat puritan dan radikal. Sejauh ini, banyak yang menjadikan fikih bukan sebagai metode (manhaj) untuk memahami doktrin keagamaan, melainkan sebagai dogma kaku.
Di negeri kita, kesadaran untuk memperluas cakupan fikih dengan menjadikan sebagai metodologi dalam merumuskan masalah kontemporer, alhamdulillah, sudah bermunculan. Misalnya saja, muncul buku-buku seperti "Fikih Jurnalistik", "Fikih Lintas Agama, dan juga "Fikih Perlindungan Konsumen" yang ditulis oleh Soffa Ihsan. Ini pertanda lahirnya kesadaran untuk tidak hanya mempersempit ruang fikih dengan hanya berputar-putar pada soal-soal ibadah, halal-haram, bid'ah-syirik, atau babagan jihad. Fikih menyimpan formulasi-formulasi ijtihadi yang masih berserakan dan bisa digali dalam rangka membaca kekinian. Dimensi keuniversalan dan kelenturan fikih jangan disembunyikan dan lalu yang mengedepankan sosok fikih sebagai "tatapan mata elang", penebar kebencian dan kecurigaan terhadap sesama, baik seagama maupun tidak seagama.
Kita jadi mafhum mengapa muncul beberapa istilah yang selalu dianggap musuh dalam fikih klasik, yaitu "syirik", "bid'ah", dan "kafir". Pertanyaannya, mengapa watak fikih klasik bisa seperti itu? Apakah Islam memang benar-benar sebagai agama yang menebarkan konflik dan kekerasan? Inilah apa yang disebut sebagai dilema paradigma fikih yang merupakan pemandangan menyejarah dan senantiasa menghiasi pemikiran keagamaan kontemporer. Banyaknya kaum terpelajar Muslim di Tanah Air yang belajar ke Timur Tengah setidaknya menyebabkan pandangan keagamaan mereka arabis dan teosentris.
Menurut Abid al-Jabiri, fikih yang dikonstruksi para ulama terdahulu tidak hanya menutup masa depan atau masa setelah fikih tersebut dikodifikasi, tetapi juga tidak mengakomodasi tradisi yang berkembang pada masa-masa sebelumnya (jabb al-islam ma qablahu). Hal itu terjadi karena fikih ibarat pendulum yang tidak secara tegas melakukan dialektika epistemologis. Fikih hanya dijadikan upaya untuk memapankan kepatuhan dan ketundukan terhadap sebuah aliran dan mazhab tertentu.
Memang fikih dan ushul fikih merupakan khazanah luar biasa kebanggaan Muslim. Dulu Amir al-Mahdi, gubernur di Asia Tengah, mengirim surat kepada Imam Syafi'i yang isinya tentang kebingungan Amir al-Mahdi saat membaca Alquran dan hadis yang isinya tampak bertentangan. Untuk menjawab ini, Imam Syafi'i menyusun kitab Al-Risalah yang berisi kaidah-kaidah ushul fikih yang kemudian lahir ilmu fikih. Dari sini, ada penjelasan mengenai rukun shalat, yang kalau hanya membaca Alquran dan hadis, tidak akan ada penjelasannya secara perinci.
Di sisi lain, formalisasi fikih yang awalnya bersifat kultural ini, pada akhirnya dijadikan "bahan bakar" untuk cakar-cakaran karena perbedaan mazhab serta saling berebut pengaruh. Ini menunjukkan adanya "pendulum peradaban" sebagaimana disebut Ibnu Khaldun sebagai "tarik ulur" yang membawa peradaban dari kemegahannya menuju kehancuran.
Fikih menjadi jumud dan beku, atau yang paling ekstrem, fikih hanya dijadikan ajang kontestasi untuk saling menyalahkan sesama Muslim. Di sinilah perlunya mengembalikan fikih kepada semangatnya yang terbuka dan progresif sehingga fikih lebih fokus memotret isu-isu peradaban kemanusiaan dan hubungan antarmazhab secara lebih mendasar.
Budaya dan dogma
Kekuatan-kekuatan pengaruh budaya sejatinya sudah bisa kita saksikan hampir di belahan dunia mana pun. Demikian pula Islam sejak masa Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, sampai renaisans di Cordoba, Spanyol, telah mengembangkan suatu khazanah kebudayaan yang kaya dan beragam.
Refleksi sejarah Islam sebagai kekuatan budaya ini telah memunculkan-menyitir istilah dari Gustav Von Grunebaum-sebagai "kesatuan dan keberagaman (unity and variety). Kekuatan budaya Islam telah melakukan suatu "sintesa" yang kaya dan adaptif dengan unit-unit kebudayaan lokal, di mana Islam dapat merambah masuk. Kekuatan-kekuatan keragaman Islam yang berpengaruh sampai pada tingkat pengambilan keputusan fikih, ikut dipertimbangkan dalam suatu tradisi yang berlaku pada saat itu.
Dalam taksonomi ajaran Islam sendiri, kita perlu melihat ada yang disebut dengan bayan ilahi. Istilah ini mengacu pada wujud ajaran Islam yang sifatnya dogmatik. Ini biasa diistilahkan ma'lumun min al-dini bi al-dharurah (ajaran Islam yang sudah "given"). Kemudian, ada yang disebut bayan al-nabawi. Ini mengandung pengertian sebagai petunjuk yang diberikan oleh Nabi Muhammad, baik dalam ucapan, sikap, maupun perilaku Nabi. Bentuk ini juga merupakan ajaran yang sifatnya dogmatik. Dan juga, apa yang kita sebut dengan bayan 'aqli. Artinya, mengacu pada cara olah pikir atau ijtihad yang dilakukan oleh umat. Misalnya, yang secara individual merujuk pada bentuk qiyas, sedangkan yang kolektif disebut ijma'.
Nah, ini semua sesungguhnya merupakan pijakan inovasi dan kreasi dalam rangka melahirkan peradaban berdasar cahaya keislaman yang bisa memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Tanpa ikhtiar ini, ajaran Islam akan ditafsirkan secara stagnan (mauquf) sehingga berpunggungan dengan cita membangun peradaban yang elok.
Dari uraian ini pula, dituangkan pengertian bahwa "tafaqquh fi al-din" berarti kaum Muslimin diperintahkan untuk terus berinovasi dan berkreasi demi membangun peradaban kini dan esok secara terus-menerus. Makna "mendalami agama" tidak mesti ditafsir secara sempit karena pengertiannya luas yang intinya tidak hanya berputar-putar pada masalah furu'iyyah-ubudiyah, tetapi menjelma sebagai "fikih tamaddun" dalam rangka membangun peradaban adiluhung yang dipenuhi kearifan dalam menyikapi perbedaan apa pun.
KH Said Aqiel Siradj, Ketua Umum PBNU
Ini fakta yang sudah terjadi di daerah-daerah yang kerap menimbulkan ketegangan fisik. Ada keyakinan "laten" dan "manifes" yang dipegangi oleh mereka yang merasa paling benar. Padahal, bukankah menuduhkan kata-kata tersebut tidak segampang itu? Model sikap ini dikhawatirkan akan berpotensi pada bentuk radikalisme.
Kita hidup di negeri yang serbamulti. Di negeri Arab saja yang cenderung "monolitik", muncul beragam aliran keagamaan, bahkan aliran di luar bingkai keagamaan, seperti sosialisme dan Marxisme. Ada apa sebenarnya dan bagaimana membaca kenyataan tersebut?
Menakar fikih
Pengkajian kitab-kitab fikih selama ini tampaknya hanya mendaras kembali kitab-kitab fikih klasik (al-fuqaha al-qudama). Artinya, di sini belum ada upaya untuk "membaca ulang" beberapa pandangan fikih terdahulu. Sebaliknya, hanya mereproduksi pandangan-pandangan fikih klasik dan tidak memproduksi pandangan-pandangan alternatif yang lebih mengacu pada upaya membangun peradaban (tamaddun).
Selama ini, telah muncul beberapa pakar dari Timur Tengah, seperti Ali Jum'ah dan Jamaluddin Athiyah, Jamal al-Banna, Yusuf al-Qaradhawi, atau juga Muhammad Syahrur. Mereka melihat betapa pentingnya membaca ulang fikih klasik secara kritis dengan arah memperbarui fikih dan ushul fikih guna merespons problem kekinian dan melahirkan fikih peradaban. Kecenderungan untuk memperbarui fikih terasa penting tatkala muncul kecenderungan pemahaman yang bersifat puritan dan radikal. Sejauh ini, banyak yang menjadikan fikih bukan sebagai metode (manhaj) untuk memahami doktrin keagamaan, melainkan sebagai dogma kaku.
Di negeri kita, kesadaran untuk memperluas cakupan fikih dengan menjadikan sebagai metodologi dalam merumuskan masalah kontemporer, alhamdulillah, sudah bermunculan. Misalnya saja, muncul buku-buku seperti "Fikih Jurnalistik", "Fikih Lintas Agama, dan juga "Fikih Perlindungan Konsumen" yang ditulis oleh Soffa Ihsan. Ini pertanda lahirnya kesadaran untuk tidak hanya mempersempit ruang fikih dengan hanya berputar-putar pada soal-soal ibadah, halal-haram, bid'ah-syirik, atau babagan jihad. Fikih menyimpan formulasi-formulasi ijtihadi yang masih berserakan dan bisa digali dalam rangka membaca kekinian. Dimensi keuniversalan dan kelenturan fikih jangan disembunyikan dan lalu yang mengedepankan sosok fikih sebagai "tatapan mata elang", penebar kebencian dan kecurigaan terhadap sesama, baik seagama maupun tidak seagama.
Kita jadi mafhum mengapa muncul beberapa istilah yang selalu dianggap musuh dalam fikih klasik, yaitu "syirik", "bid'ah", dan "kafir". Pertanyaannya, mengapa watak fikih klasik bisa seperti itu? Apakah Islam memang benar-benar sebagai agama yang menebarkan konflik dan kekerasan? Inilah apa yang disebut sebagai dilema paradigma fikih yang merupakan pemandangan menyejarah dan senantiasa menghiasi pemikiran keagamaan kontemporer. Banyaknya kaum terpelajar Muslim di Tanah Air yang belajar ke Timur Tengah setidaknya menyebabkan pandangan keagamaan mereka arabis dan teosentris.
Menurut Abid al-Jabiri, fikih yang dikonstruksi para ulama terdahulu tidak hanya menutup masa depan atau masa setelah fikih tersebut dikodifikasi, tetapi juga tidak mengakomodasi tradisi yang berkembang pada masa-masa sebelumnya (jabb al-islam ma qablahu). Hal itu terjadi karena fikih ibarat pendulum yang tidak secara tegas melakukan dialektika epistemologis. Fikih hanya dijadikan upaya untuk memapankan kepatuhan dan ketundukan terhadap sebuah aliran dan mazhab tertentu.
Memang fikih dan ushul fikih merupakan khazanah luar biasa kebanggaan Muslim. Dulu Amir al-Mahdi, gubernur di Asia Tengah, mengirim surat kepada Imam Syafi'i yang isinya tentang kebingungan Amir al-Mahdi saat membaca Alquran dan hadis yang isinya tampak bertentangan. Untuk menjawab ini, Imam Syafi'i menyusun kitab Al-Risalah yang berisi kaidah-kaidah ushul fikih yang kemudian lahir ilmu fikih. Dari sini, ada penjelasan mengenai rukun shalat, yang kalau hanya membaca Alquran dan hadis, tidak akan ada penjelasannya secara perinci.
Di sisi lain, formalisasi fikih yang awalnya bersifat kultural ini, pada akhirnya dijadikan "bahan bakar" untuk cakar-cakaran karena perbedaan mazhab serta saling berebut pengaruh. Ini menunjukkan adanya "pendulum peradaban" sebagaimana disebut Ibnu Khaldun sebagai "tarik ulur" yang membawa peradaban dari kemegahannya menuju kehancuran.
Fikih menjadi jumud dan beku, atau yang paling ekstrem, fikih hanya dijadikan ajang kontestasi untuk saling menyalahkan sesama Muslim. Di sinilah perlunya mengembalikan fikih kepada semangatnya yang terbuka dan progresif sehingga fikih lebih fokus memotret isu-isu peradaban kemanusiaan dan hubungan antarmazhab secara lebih mendasar.
Budaya dan dogma
Kekuatan-kekuatan pengaruh budaya sejatinya sudah bisa kita saksikan hampir di belahan dunia mana pun. Demikian pula Islam sejak masa Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, sampai renaisans di Cordoba, Spanyol, telah mengembangkan suatu khazanah kebudayaan yang kaya dan beragam.
Refleksi sejarah Islam sebagai kekuatan budaya ini telah memunculkan-menyitir istilah dari Gustav Von Grunebaum-sebagai "kesatuan dan keberagaman (unity and variety). Kekuatan budaya Islam telah melakukan suatu "sintesa" yang kaya dan adaptif dengan unit-unit kebudayaan lokal, di mana Islam dapat merambah masuk. Kekuatan-kekuatan keragaman Islam yang berpengaruh sampai pada tingkat pengambilan keputusan fikih, ikut dipertimbangkan dalam suatu tradisi yang berlaku pada saat itu.
Dalam taksonomi ajaran Islam sendiri, kita perlu melihat ada yang disebut dengan bayan ilahi. Istilah ini mengacu pada wujud ajaran Islam yang sifatnya dogmatik. Ini biasa diistilahkan ma'lumun min al-dini bi al-dharurah (ajaran Islam yang sudah "given"). Kemudian, ada yang disebut bayan al-nabawi. Ini mengandung pengertian sebagai petunjuk yang diberikan oleh Nabi Muhammad, baik dalam ucapan, sikap, maupun perilaku Nabi. Bentuk ini juga merupakan ajaran yang sifatnya dogmatik. Dan juga, apa yang kita sebut dengan bayan 'aqli. Artinya, mengacu pada cara olah pikir atau ijtihad yang dilakukan oleh umat. Misalnya, yang secara individual merujuk pada bentuk qiyas, sedangkan yang kolektif disebut ijma'.
Nah, ini semua sesungguhnya merupakan pijakan inovasi dan kreasi dalam rangka melahirkan peradaban berdasar cahaya keislaman yang bisa memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Tanpa ikhtiar ini, ajaran Islam akan ditafsirkan secara stagnan (mauquf) sehingga berpunggungan dengan cita membangun peradaban yang elok.
Dari uraian ini pula, dituangkan pengertian bahwa "tafaqquh fi al-din" berarti kaum Muslimin diperintahkan untuk terus berinovasi dan berkreasi demi membangun peradaban kini dan esok secara terus-menerus. Makna "mendalami agama" tidak mesti ditafsir secara sempit karena pengertiannya luas yang intinya tidak hanya berputar-putar pada masalah furu'iyyah-ubudiyah, tetapi menjelma sebagai "fikih tamaddun" dalam rangka membangun peradaban adiluhung yang dipenuhi kearifan dalam menyikapi perbedaan apa pun.
KH Said Aqiel Siradj, Ketua Umum PBNU
Rabu, 30 Januari 2013
Roti Sisir
Entah sejak kapan, aku mempunyai kebiasaan mengunyah roti sisir
jika merindukanmu. Bisa jadi karena dulu kau sering menikmati senja
dengan roti sisir dan segelas kopi pekat tanpa merk. Benar-benar kopi
yang wangi dan pekatnya sangat kopi, bukan seperti kopi dengan
bermacam-macam judul tapi pudar. Tentu saja aku tidak minum kopi itu.
Tapi aku turut mengunyah roti sisir yang manis dan gurih. Semanis dirimu
dan segurih cerita yang kau kisahkan.
Sore ini pun aku mengunyah roti sisir, karena tiba-tiba merindukanmu. Kau tahu? Aku sudah 25 tahun. Bukan lagi bocah berkepang dua yang berkeliaran di kebun, sawah dan sungai. Tapi berlalunya waktu tidak juga mengusir kangen yang bisa sewaktu-waktu menghampiri. Kau sendiri telah lama pergi, entah ke tempat seperti apa. Aku hanya bisa memohon kepada Tuhan, bahwa tempatmu saat ini menyenangkan dan kau bahagia di sana.
Sore ini, entah mengapa roti sisir yang aku kunyah ini hilang gurih dan manisnya. Seperti busa untuk cuci piring. Semakin dikunyah, semakin yakin tidak ada rasa. Hambar. Yang lebih penting, aku bisa bernostalgia denganmu senja ini, meskipun tanpa kehadiran sebenarnya.
Kemudian sebuah doa kubungkus rapi. Kutuliskan namamu di sampulnya. Juga sebuah kalimat penutup singkat, tapi dengan menuliskannya saja sudah cukup untuk membuat genangan air di mata.
; salam kangen selalu, dari cucumu (dan ada tanda kecup di sana).
Sore ini pun aku mengunyah roti sisir, karena tiba-tiba merindukanmu. Kau tahu? Aku sudah 25 tahun. Bukan lagi bocah berkepang dua yang berkeliaran di kebun, sawah dan sungai. Tapi berlalunya waktu tidak juga mengusir kangen yang bisa sewaktu-waktu menghampiri. Kau sendiri telah lama pergi, entah ke tempat seperti apa. Aku hanya bisa memohon kepada Tuhan, bahwa tempatmu saat ini menyenangkan dan kau bahagia di sana.
Sore ini, entah mengapa roti sisir yang aku kunyah ini hilang gurih dan manisnya. Seperti busa untuk cuci piring. Semakin dikunyah, semakin yakin tidak ada rasa. Hambar. Yang lebih penting, aku bisa bernostalgia denganmu senja ini, meskipun tanpa kehadiran sebenarnya.
Kemudian sebuah doa kubungkus rapi. Kutuliskan namamu di sampulnya. Juga sebuah kalimat penutup singkat, tapi dengan menuliskannya saja sudah cukup untuk membuat genangan air di mata.
; salam kangen selalu, dari cucumu (dan ada tanda kecup di sana).
Langganan:
Postingan (Atom)