Senin, 04 Juni 2012

Resonansi

Sekitar empat tahun yang lalu, ketika percakapan ini terjadi. Saya berumur 21 tahun dan baru saja merasakan bagaimana atmosfer kesehatan yang sebenarnya.

Rumah sakit bukanlah tempat nyaman. Bangsal yang terkesan tua, berdesakan, kumuh dan apek. Namun, kami masih saja merasa bisa membicarakan masa depan. Seperti tahu segalanya, ingin menaklukkan dunia. Padahal, kami tidak punya apa-apa.

Masa depan yang kami bicarakan pun cukup muluk-muluk. Terutama saya. Sangat berlebihan dan tidak mempertimbangkan keadaan. "Saya ingin menjadi bagian dari orang-orang Kedokteran Komunitas. Karena pengobatan harusnya bukan menjadi pusat perhatian kita, tapi harus memperhatikan pencegahan", dengan yakin saya seperti berorasi (walaupun jika ditanya apa rencana saya untuk itu, saya tidak punya satu pun jawaban. Ini lebih tepat disebut sebagai keinginan orang yang sedang kesumat, bukan cita-cita yang matang dan bisa dipertanggungjawabkan :D )

"Di Eropa sana, pencegahan sudah sampai tingkat genetik. Sudah kuno kalau kamu mau mengkampanyekan menjaga kebersihan". Teman saya yang satu ini memang tipikal orang yang memotivasi temannya dengan cara lain. Dalam hati saya berbisik, saya ingin dan saya akan jadi bagian dari barisan itu.

Empat tahun kemudian, kurang lebihnya tahun ini, saya sekolah di Konseling Genetik. Entah ini jawaban dari masa lalu, ataukah masa lalu itu menjadi pertanda dari keadaan saat ini, saya tidak paham. Semuanya seperti benang yang saling mengkait. Seperti pecahan teka-teki yang berserak. Dan saya, terbawa saja tanpa menemukan dan ingat kejadian empat tahun yang lalu. Sampai suatu saat seorang teman bercerita tentang sahabatnya, bagaimana kisahnya hingga mantap memilih sekolah di sini.

Jujur, saya malu. Sangat malu. Saya merasa sangat tidak bersyukur dan menyia-nyiakan kesempatan. Jika ada orang lain yang dengan usaha keras sekolah di sini karena suatu kejadian menyedihkan yang mendatangkan pelajaran dan tekad, saya serta merta (dengan sembarangan) menyebut bahwa diri saya 'kesasar'. Kesannya, saya tidak punya motivasi dan niatan yang baik, hanya menjalani rutinitas yang seharusnya saya lakukan.

Bukankah saya cukup melihat pengalaman orang lain yang menyedihkan, kemudian menjadikaanya sebagai sebaik-baik pelajaran? Bukankah saya harus lebih banyak bersyukur atas kesempatan yang cukup dibayar dengan kesungguhan? 

Dan saya pikir, saya akan jauh lebih malu lagi jika tidak segera merubah niat saya, mengalamatkan pada sesuatu yang lebih baik (minimal, tidak merubahnya menjadi niat jahat.hehehe).

Semoga, esok hari lebih baik. Semoga, jawaban-jawaban baik segera saya temukan untuk memperbaiki semuanya. Semoga, saya tidak memalukan (terutama memalukan bagi diri saya sendiri).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar