Ada banyak alasan kenapa menulis. Tiap orang yang menulis pasti punya maksud dan tujuan tersendiri dari apa yang dia tulis.
Ada yang menulis karena kebutuhan, mungkin karena kapasitas intelektual yang dipunyai selalu meluap dan akan sia-sia jika tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Ada yang dengan idealismenya ingin membumikan kebaikan, ada yang menggunakan istilah lebih implisit lagi; untuk berdakwah. Dan ada yang ingin eksis dengan tulisannya.
Lantas saya ada di mana, di antara sekian alasan itu? Entahlah. Menulis bagi saya seperti menyarikan dari segenap kesungguhan. Apapun jenis tulisannya. Jika puisi, berarti kesungguhan atas apa yang menguasai rasa, dari apa yang ada di diri, orang terdekat, lingkungan, atau mungkin yang agak muluk-muluk adalah negara dan dunia.
Mengapa Puisi?
Jika dilihat dari profesi saya, banyak yang bertanya (tapi saya tangkap sekaligus sebagai komentar). mengapa harus puisi? Bukankah akan jauh lebih bermanfaat jika tulisan saya lebih mudah dipahami oleh pembaca dengan kata-kata yang lugas?
Bagi saya, menulis juga merupakan perjalanan. Di puisi lah perjalanan saya dimulai. Kalau mau agak kejam, saya akan menyalahkan paman-paman saya yang dengan teganya meracuni saya. Dari usia ketika anak-anak lebih menyukai dongeng, saya lebih menyukai puisi. Saya tetap menyukai dongeng, walaupun interpretasinya seperti yang sudah-sudah dan cerita akhirnya dapat ditebak.
Ya, menulis adalah perjalanan. Pada puisilah tulisan saya bermula dan dibaca banyak orang (bagus atau tidaknya, bukan jaminan sih :D ). Kemudian saya menikmatinya. Menikmati puisi sebagai kristal yang padat, benar-benar padat untuk mewakili hati saya yang membuncah bahagia, kosong atau terpuruk sedih.
Walau begitu, seperti halnya perjalanan, bahwa kita tengah berjalan untuk suatu alasan dan tentunya berkelanjutan, saya ingin berlanjut pada langkah yang lain. Menulis jenis tulisan yang lain. Saya akan ke sana.
Jadi, mari belajar menulis lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar