Beranjak malam, Tuhan. Maka aku menyalakan lampu ruang tengah, lampu
ruang tamu, lampu jalan, juga lampu kamar. Sedang hatiku biar gelap
dulu, untuk merasakan sepi yang buncah.
Bukan masalah sementara ada di kegelapan, Tuhan. Asal Kau rela. Aku
masih ingin belajar. Setelah kehilangan matahari, apakah purnama yang
sebenarnya?
Rabu, 28 Maret 2012
Rabu, 29 Februari 2012
Tentang Luka
Mungkin saya serupa
kanak-kanak yang dua puluh tahun lalu bermain kayu-kayu kecil yang
patah karena lapuk dimakan musim. Ada beberapa yang tajam, yang tidak
sengaja menusuk jari-jari yang ketika itu kulitnya masih tipis dan
rapuh. Yang saya ingat, tidak ada perih. Hanya tangan kecil
berdarah-darah. Yang saya ingat, saya tidak takut. Hanya heran mengapa
luka yang tidak seberapa menganga, tapi mengucurkan darah yang tidak
juga berhenti.
Mungkin ini hanya tentang luka. Tidak berbahaya, sepertinya. Sampai beberapa jam kemudian baru terasa perih ketika ibu meneteskan cairan berwarna coklat. Agar lekas mengering, kata ibu. Dan kemudian tidak ada lagi yang tahu tentang luka itu selain ibu. Saya simpan rapat-rapat perih dan ngilunya hingga beberapa hari.
Ibu, sekarang ini saya kembali terluka. Bukan di tubuh, tapi di hati. Peristiwanya persis seperti dua puluh tahun lalu, ketika saya bermain kayu-kayu patah. Tidak mengerti bagaimana mulanya luka itu menganga, tiba-tiba terasa ngilu dan perih.
Tetapi, tidak mengapa, ibu.. Ini hanya luka.Akan saya simpan saja, sendiri.
Akan menyembuh, pasti.
Mungkin ini hanya tentang luka. Tidak berbahaya, sepertinya. Sampai beberapa jam kemudian baru terasa perih ketika ibu meneteskan cairan berwarna coklat. Agar lekas mengering, kata ibu. Dan kemudian tidak ada lagi yang tahu tentang luka itu selain ibu. Saya simpan rapat-rapat perih dan ngilunya hingga beberapa hari.
Ibu, sekarang ini saya kembali terluka. Bukan di tubuh, tapi di hati. Peristiwanya persis seperti dua puluh tahun lalu, ketika saya bermain kayu-kayu patah. Tidak mengerti bagaimana mulanya luka itu menganga, tiba-tiba terasa ngilu dan perih.
Tetapi, tidak mengapa, ibu.. Ini hanya luka.Akan saya simpan saja, sendiri.
Akan menyembuh, pasti.
Langganan:
Postingan (Atom)